Showing posts with label #kisah. Show all posts

Mencari Harapan

Matanya menatap tajam ke lawannya. Bola matanya bergerak-gerak menelanjangi, seolah mencari sedikit harapan dan kepastian untuk masa depannya. Tapi yang tampak dari lawannya hanyalah alasan-alasan manis semu yang terasa jemu. Sebuah usaha supaya dia tetap bertahan di sisinya. Tapi dia sudah muak, sudah terlalu lama ia terus disirami dengan janji manis yang pada akhirnya hanya menjadi omong kosong. Dia tidak mendapatkan yang dia cari dari lawannya, makanya ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan belasan poster kampanye partai politik yang terpaku di batang pohon rindang di pinggir jalan itu.




Catatan: Tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak akan memilih mereka yang posternya terpasang di pohon-pohon rindang. Take our trees out from your political shits, please! #sikap #belajartidakapatis


LA.

Canggung

Khalil Fong 方大同 Reflection
Pict: HKmPUA

Canggung adalah ketika kamu mencuri pandang ke seseorang melalui refleksi pada kaca jendela. Dan menangkap ternyata orang tersebut sedang menatapmu melalui refleksi yang sama. Lalu, secepat mungkin mengalihkan pandang, menyembunyikan senyum.


LA.

Warna Memori

Aku cek jam dipergelangan tanganku. Pukul 06.15, sudah saatnya berbuka puasa. Aku terlambat di tempat berkumpul. Bukan perkumpulan spesial sebenarnya, hanya sebuah perkumpulan dengan teman-teman lama. Termasuk dengan gadis itu, gadis yang pernah kupinta hatinya. Salah, gadis yang pernah kuberikan hatiku padanya. Apakah Ia akan datang?

Sesampainya di sana mudah saja menemukan gerombolan itu dan menemukan dia, yang memilih duduk di meja kecil tengah, di luar gerombolan tertentu, dia yang seketika menunduk saat melihatku datang. Aku menelan senyum geli melihat tingkahnya. Bodoh, lain kali setidaknya berusahalah untuk tidak terlalu terlihat jika melakukan itu lagi ya.

Aku ingin duduk di sampingnya, di hadapannya, di dekatnya untuk menanyakan kabar hati yang pernah kuberikan. Saat itu ia menolak pemberianku dengan alasan pendidikan. Bodoh dan klise. Tapi, itu yang kukagumi darinya. Ia dan ambisinya pada pendidikan.
Aku ingin duduk di sampingnya, di hadapannya, di dekatnya, tapi aku sadar diri. Saat ini aku sedang memiliki hati seseorang.

Jadi, aku memilih bergabung dengan gerombolan lelaki, berjarak darinya.

Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya dari ujung mataku. Aku menyadari sesuatu. Dia dengan jilbab merah marunnya dan aku dengan kemeja merah marunku. Aku punya warna untuk memoriku tentangnya kali ini: merah marun.


Counter part kisah Merah Marun.


LA.

Babak Lima Belas Menit.

Pertemuan pertama kita tidak jelas, apakah bulan Februari atau Januari empat tahun silam. Bisa jadi sebelum itu kita pernah bertemu, berpapasan, bersinggungan atau mungkin aku menjeli kamu baru-baru ini.

Tapi aku ingat ketika pertemuan kita tidak pernah bisa dihitung lama. Kisah sebentar.

Tentang pertemuan di halte kampus dan sama-sama menunggu hingga akhirnya aku berlari untuk mengejar bus biru dan kamu merah

Tentang pertemuan di tiap-tiap rapat suatu organisasi kampus yang sangat minim frekuensi. Meski saling mengetahui

Tentang pertemuan di tempat mengajar yang selalu tergesa karena aku selalu tepat waktu. Ya, kelas mulai jam 10 pagi dan jam 10 pagi itulah aku datang dengan rambut basah dan tidak tersisir tersapu angin dari atas ojek motor

Tentang pertemuan di belakang balairung dimana kamu berwisuda dan aku yang berlarian tidak karuan karena hujan dan aku sangat amat tidak kece saat itu. Aku ingat.

'Sama ujan aja kok takut' itu katamu.

Dan aku tidak pernah tampil maksimal di hadapanmu. Selalu dalam kondisi tidak oke dan tidak layak. Aku masih hafal betul..

Sebenarnya tidak perlu tampil baik dihadapanmu, tentu selama ini kita selalu menjaga jarak seaman mungkin. Karena aku tau sedikit kamu dan kurasa kamu juga demikian. Tentang kamu? Maaf aku tidak mencari tau banyak, hidupku fokus untuk satu pria yang melirik aku tiap haripun tidak. Yang kutau kamu baik dan calon sukses segala hal. Dan aku memang tidak harus tampil maksimal.

Tapi kemarin berbeda. Aku ingin mengikis semua pendapat tentang gaya yang cuek yang aku bangun sebelumnya. Aku ingin lebih berhias ala bersahaja. Tapi tidak berlebihan. Setidaknya lebih rapi. Alih-alih sudah memikirkan kaus dan warna jilbab senada aku jadi lupa mengerjakan tugas yang seharusnya. Dan ini memang menyenangkan, aku tidak tau bagaimana ini bermula tapi aku suka menikmati prosesnya.

Hari itu. Entah mengapa, tidak berjalan semestinya. Kita memang tidak pernah bertemu dalam situasi yang normal. Aku kembali acak-acakan, terburu-buru, dan kamu yang tetap diam dan tenang.

Hari itu. Yang tidak pernah dijanjikan dari sebelumnya. Tentang awal pertemanan. Tentang awal disisipkannya kepercayaan. Untuk mula dari hal yang dilandasi kepercayaan. Entah kenapa, manis.

Hari itu tentang babak lima belas menit dan sapaan setelahnya. Semoga membuka hal yang baik. Tanpa janji, tanpa andai, dan sesederhana keindahan savana seperti dalam pembicaraan kita.

Semoga, suatu hari nanti kita dapat bertemu dalam keadaan yang lebih baik.

Salam

Catatan Desember

Risiko. Dalam hidup ini tidak ada tempat yang aman ataupun aktivitas yang bebas dari risiko. Semua hal mengandung konsekuensi dan setiap orang pasti pernah mengambil satu resiko besar dalam hidupnya. Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga Mongol. Seorang Nick Jokovic rela beratus-ratus kali jatuh untuk mencoba berdiri dari atas tubuhnya yang tanpa tangan dan kaki. Dan Lori, mendedikasikan lebih dari tiga tahun hidupnya menembus 7 atap langit dunia yang berbahaya tanpa mendapat restu dari ibunda. Semua kepatutan harapan, impian atau keinginan tentulah ada yg dikorbankan.

Termasuk tentang perasaan saya, mengambil risiko untuk berada ditempat seaman mungkin untuk saya agar tidak tersentuh dan merasa aman. Bisa jadi saya tidak seberani mereka dalam menghitung resiko apa dan mana yang kira-kira baik untuk saya. Meski dengan itu saya memang tidak kemana-mana. Saya takut, saya tidak mau terluka. Meski saya juga tau bahwa dengan diam tidak menjamin tidak terluka. Setidaknya selama hampir enam tahun dalam kehidupan saya..

Desember, adalah titik balik perubahan dalam hidup saya. Nampaknya kunci pintu dihati haruslah digedor supaya bisa angkat bicara. Dan rumah sakit menjadi lokasi penakaran yang pantas bahwa usia manusia tidak selamanya panjang. Kamu disini, datang, kembali.. membawa bingkisan senyum yang bisa menghapus luluh seluruh energi yang kupikir habis mengawasi ibu di hari ini. Tanpa diminta, tanpa diingatkan.

Hmm.. saya pikir saya juga sudah lelah pada permainan ini.. pada scene yang telah kamu buat, pada drama yang akhirnya saya ciptakan. Kali ini saya pikir harus mengambil risiko. Risiko yang seharusnya dari dulu saya ambil, tanpa mengabaikan nurani. Saya sudah terlalu jatuh sama kamu. Dan kamu terlalu naif jika menganggap ini kebetulan, bahwa saya jatuh cinta pada seorang yang hanya bisa kulihat dan kusenyumi dari dekat tapi tidak hatinya. Terserah kamu peduli atau tidak, karna pada akhirnya saya memang sudah kehilangan kamu dari awal dan akhir.

Sekali lagi kita bertemu, diawal desember yang hujan, di antara kamar-kamar bisu dan bau alkohol karbol rumah sakit. Dan kali ini saya tidak menunduk, tidak cuma tersenyum, tidak hanya menatap dan mengangguk.

'saya. pernah. jatuh. cinta. sama. Mas' saya telah jelas mengatakannya, saya lega mengatakannya, dan seketika saya merasa mulas. Hahaha bukan karna momennya memang tidak pas, tapi karena saya berbohong. Saya masih cinta..

Dia diam. Saya diam. Lama.. membuat saya sangat ingin kembali menunduk.

***

Kami berpisah di lorong panjang tempat lift berada. Mengantarnya sampai ke pintu dan entah kapan akan kembali bertemu. Tidak ada yang berbeda. Karena memang tidak ada pinta.

Di ujung lorong di depan lift ia berdiri membelakangiku, kemudian berbalik memandangku. Memberikan senyuman dan mengucapkan terimakasih. Untuk pertama dia mengambil tangan ini.

'Sampai bertemu kembali, terimakasih dan jaga diri jangan sampai sakit' ia menepuk kepala dua kali, sebelum lift membuka dan sebelum kujawab terimakasih.

Terimakasih, iya dan sampai jumpa. Tiga kata yang selalu kukunci untuk dijawab. Yang kupikir ini bagian dari risiko yg kutelan dari hilangnya perhatian. Dan perubahan drastis yang reaktif

Dalam hal ini, bisa jadi cinta saya bertepuk. Tapi cinta ini penah melakukan sesuatu. Dan tidak diam

Dia cukup mencari tempat, dimana cinta memang telah ditunggu dan diterima.

(ADA)

Menantikan Kita di Masa Depan

Aku dikelilingi oleh lima orang lelaki yang kusebut sebagai sahabat. Aku menyebut mereka sahabat. Entah mereka menyebutku apa. Lima lelaki tampan yang senantiasa sabar menghadapi egoku. Lima lelaki dengan karakter berbeda yang senantiasa siap menampung keluh kesahku, yang senantiasa memberikan perhatian tulus dan hangat saat aku membutuhkannya. Lima lelaki yang dulu dapat secara tiba-tiba kuajak untuk menghabiskan malam bersama di entah-warung-kopi-mana. Banyak cerita, lebih banyak lagi drama. Entah sejauh mana kami mengenal satu sama lain sekarang.

Sampai di masa ini, masa dimana semua memiliki kesibukan masing-masing. Pernah secara tiba-tiba aku ingin menelpon seseorang di suatu pagi hanya untuk mengucapkan selamat pagi, aku menelepon salah satu dari mereka. Hanya sekali atau dua kali. Selebihnya semua tenggelam dalam lautan pekerjaan, tanpa kabar berita. Dulu semua terasa mudah dan sederhana. Aku cukup berkicau di dunia maya bahwa aku bosan, lalu salah satu dari mereka akan menyahut dan kemudian kami mendapati diri sudah duduk berhadapan menghabiskan sisa hari di entah-warung-kopi-mana. Sekarang untuk sekedar berkumpul di akhir pekan atau selepas jam kerja bukanlah perkara gampang. Kami dipisahkan oleh dunia kasat mata yang aku sebut "scene". "Scene" kami terlampau berbeda sekarang, aku merasa begitu jauh dari mereka. Atas nama pekerjaan, kami menjadi terlampau jauh dari satu sama lain.

Suatu malam, aku sampai pada suatu pemikiran, apa yang akan terjadi di masa depan saat mereka satu persatu memiliki tambatan hati? Apa yang akan terjadi padaku, lebih tepatnya. Mereka tidak akan lagi leluasa menghabiskan malam di entah-warung-kopi-mana bersamaku. Aku tidak akan lagi leluasa mengajak mereka untuk menghabiskan malam di entah-warung-kopi-mana. Atau jika bersama, mungkin aku akan melihat mereka justru menghabiskan waktu berbicara dengan kekasihnya melalui sambungan telepon genggam. Dan aku akan cemburu, tentu saja, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Lelakiku sudah dialihkan sepenuhnya dariku dan aku tidak akan bisa berbuat banyak. Pada masa itu, aku akan jauh lebih merindukan mereka dibandingkan saat ini.

Lelaki-lelakiku sayang,
sebelum itu tiba, sebelum waktu dan perhatian kalian dikuasai oleh seseorang yang kalian sebut kekasih, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama kalian. Mari kembali menghabiskan waktu di entah-warung-kopi-mana sambil bercerita dan saling mencela satu sama lain atau justru sok membicarakan sesuatu yang serius yang berakhir tanpa kesimpulan.

Sungguh, aku menantikan masa depan, aku ingin melihat kita di masa depan. Akankah masih seperti saat ini atau justru menjadi orang asing sama sekali?

Senin, 25 November 2013. 17:43. Aku merindukan kalian dan aku ingin piknik!!


LA.

Perkara Hati.

Banyak yang bilang bahwa cinta itu bukan sekedar meminta kepemilikan hati orang tersebut. Bukan perkara menyatukan ego melainkan sebuah proses tak berkesudahan ketika hasrat cinta yg membara di awal dan harus terus terjaga panasnya. Cinta juga bukan sekedar kewajiban melapor sambil menceritakan sedu sedan dan bahagia dalam satu hari itu. Bukan pula seperti cerita ftv atau kisah-kisah yg ditulis pablo neruda dan kahlil gibran. Tidak pernah selamanya manis, puitis dan penuh dengan gombalan manja.

Ah! Tahu apa aku menyoal cinta. Aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan rasanya sangat dalam. Sementara untuk mengambil contoh mungkin harus belajar banyak dari yang mengalami banyak cinta, meski hanya mampir di tepi.

Cinta itu muncul dari hal-hal sederhana. Dari kebiasaan yang membuat nyaman. Cinta itu selalu mengupayakan keberadaan, selalu hadir. Cinta juga mengupayakan kebahagiaan, mengesampingkan lelah yang dipunya. Dan berbagi. Berbagi untuk saling memberi dan memenuhi.

Kira-kira begitu.. pastinya aku tidak tahu.

Yang kutahu hari ini aku bertemu membuat janji dengannya. Tidak berdua. Tapi aku dengan orang tuaku dan dia dengan orang tuanya. Untuk bersama membantu.  Sebelum fajar mengintip aku sudah di muka halaman rumahnya. Mengambil pak-pak kardus buku yang entah berapa banyak isi buku didalamnya. Semuanya dia bawa tanpa sisa. Dia pindahkan untuk rumah dia yang baru.

Aku masih ingat ketika peluh jatuh dari kening kepalanya. Mengucur deras dari kulitnya yang halus dan mulai ditumbuhi keriput halus. Aku penasaran sudah berapa banyak buku yang ia baca. Penasaran bagaimana ia selalu mencari relevansi teori dari pengalaman yang ia punya. Aku tahu dalam hal ini aku hanyalah adik kecilnya, yang bisa membantunya mendesain rumah mungilnya untuk disulap sebagian menjadi ruang perpustakaan. Iya, aku penasaran.

Siang itu, sambil merapikan buku yang mulai disusun, kubiarkan pembicaraan berkembang dari hal satu ke hal yang lain. Caranya menatap masih sama, caranya bercerita juga masih sama. Dan tanganku berhenti pada buku tersampul yang tertambat di mataku. "Ini buku pernikahan, belum di baca?" Ujarku penasaran. Ia menjawab bahwa itu akan menjadi hadiah. Untuk belajar membina rumah tangga

Ia bangkit berdiri, berjalan beberapa langkah yang membawanya pada satu buku bersampul. "Ini juga hadiah buat kamu. Biografi. Bagus isinya" aku diam tidak bereaksi apa. Aku tidak meminta buku. Aku hanya ingin ceritanya. "Mas tahun depan menikah dek. Doain aja ya lancar semuanya". Buku yang ditanganku mendadak jatuh, aku pukul mundur mengambilnya dan mengalihkan pandangan. Ini sudah kuduga, ini yang sudah dipersiapkan, ini jawaban dari doa. Atas nama kepatutan aku bangkit, mengambil buku dan menyeimbangkan senyum dengan sederet gigi. "Selamat ya" hanya itu, hanya itu yang bisa diucapkan.

Tidak. Ini tidak sesakit yang kubayangkan.

Aku terdiam sejenak di sudut rak kayu yang masih baru bau cat. Disudut ini nanti dihuni oleh mereka pasangan baru. Aku beruntung dapat berperan disini, menempelkan karyaku yang dapat diingat setidaknya sampai ia memutuskan untuk mendekor ulang. Akupun sudah cukup mengambil banyak dari sini. Belajar untuk menyalurkan ilmu keikhlasan, keseimbangan, kebahagiaan dan rasa rindu yang menggebu menjadi satu keutuhan. Aku belajar menerima, dan mencintai dengan baik. oke, dua kalimat terakhir tidak sepenuhnya benar!

Setidaknya aku masih punya daya.

Daya untuk berupaya tidak mengabulkan apa yang diminta hati. Daya untuk tahu diri. Bahwasanya yang fana adalah ketidakberdayaan untuk bangkit.

Danke banyak voor dorang. Tete manis sayang dorang senantiasa.. beta seng akan lupa dong pung sayang yang lebih dari cukup.

(ADA)

Tidak Ingin Jatuh Lagi

 photo HoldingHands_zps5a9e63c6.jpg
Pict: Weheartit


Aku suka caramu menyerukan semangat untukku dari kejauhan
Saat aku sedang berusaha bernapas di bawah air
Aku suka caramu meraih tanganku dan menggenggamnya di bawah air
Kemudian kita menyelam bersama, bergandengan tangan
Sebelum akhirnya kuputuskan untuk melepaskan genggamanmu
Melepaskanmu

Aku suka
Masih suka
Perempuan mana yang tidak suka mendapat perhatian
Sekecil apapun
Jangan terlalu sering melakukannya
Aku tidak mau jatuh padamu
Lagi


LA.

Kata.

"Semua itu berawal dari perkataan. Apapun yang kita lakukan haruslah dipikirkan dan tidak boleh menyakiti hati orang lain. Kasus yang di Bandung, dia tidak mengambil harta dan mencuri mobil yang dipakai untuk membunuh. Dia hanya melakukan apa yang membuatnya bahagia yaitu menyiksa dengan cara yang membuat hatinya puas"

Aku tersenyum. Tersenyum cukup lama tanda mengiyakan dan mendengarkan

"Kamu juga harus hati-hati ya, kalau naik angkot dimarahi karna uangnya kurang jangan menghardik, atau jika kamu pulang larut dan digoda pria-pria nakal di ujung gang gelap kamu harus menjaga lisan supaya tidak disekap orang. Dari 12 lapas di Indonesia yang telah saya temui, polanya selalu sama. Dan kasus ini juga harusnya jadi pelajaran. Haha jangan sampai nanti ada berita wanita dibunuh karena bayar angkot kurang dalam koran. Ha ha ha.."

Aku tersenyum lagi dan mengangguk diam.

Cukup lama dalam pikiranku memutar potongan kata yang ingin aku dengar dan simpan. Perkataan, hati-hati, jangan, dan suara renyah tawa yang kamu ucap. Kamu benar, perkataan bisa membawa pada reaksi perbuatan. Entah itu baik atau menjadi buruk.
Dalam kasusku, aku tidak tau. Aku selalu menganggap perkataanmu selalu benar dan selalu meyakinkan. Aku selalu yakin bahwa kekhawatiranmu adalah perhatian yang lebih namun porsinya pas. Kamu seperti lampion waisak yang ditumbuhi harapan. Begitu banyak yang bisa ditulis. Begitu kaya dengan waktu yang ditunggu.

Percakapan itu berlangsung panjang. Hingga hujan mereda, dan kita terdiam dalam hening yang panjang. Dan saling bertatapan.
Kamu benar. Benar kamu.
(ADA)


Kisah ini merupakan kelanjutan dari Pertanyaan., Silaturahmi., dan Lampion.

Jawaban Tentang Rasa


Hai Kamu,

Melalui ini aku ingin mengucapkan terima kasih padamu
Terima kasih untuk malam ini
Terima kasih untuk mengantarku pulang tanpa terasa canggung dan kaku
Terima kasih telah menjawab pertanyaanku
Terima kasih karena jawabannya adalah kau ijinkan aku memperbaiki kita
Aku lega
Aku bahagia
Ini yang terbaik bagi kita, bukan?
Kembali menjadi dua sahabat


(P.S. Maaf, tapi diam-diam aku menyukai kesalahpahaman ibumu mengenai hubungan kita. Aku bahagia semalam beliau menyambutku begitu hangat, dengan pelukan hangat pula. Aku akan memperbaiki yang ini belakangan ya :p)

Note: Tulisan ini berkaitan dengan Tentang Rasa dan Tentang Rasa (Sekuel)


LA.

Lampion.

Kuputuskan untuk kembali mengingat lampion yang mestinya berpendar mengangkasa di bulan Mei lalu, kuputuskan untuk kembali menguatkan ingatan tentang apa yang menjadi harapan yang sengaja kutulis untuk membiarkanmu bahagia. Kuharus mengingat secara perlahan bagaimana lampion haruslah melangit dan memberi cahaya dan berarti untuk orang banyak. Supaya pergi dan meringankan beban yang ada di bumi. Lalu kembali melangkah.

Kuputuskan kembali untuk berjalan lurus dan duduk di poros. Untuk lebih mudah menuju ke lorong. Kamu tahu, hidup bisa saja berjalan seperti lorong yang panjang, bisa lurus, berliku dan memutar. Namun lorong tetsebut tetap dapat menemukan ujungnya.

Sayangku, atau siapapun kamu yang belum bisa kupanggil sayang.. aku mengagumimu sementara kamu terus berpendar. Aku membiarkanmu terbang seperti semestinya. Mendoakanmu untuk berada diujung pelaminan. Merelakanmu seikhlas mungkin semampu aku bisa. Karna pada akhirnya, aku memang tidak bisa berbuat apa-apa.

Kuputuskan kembali untuk mengenal diriku sendiri. Merindukan diri yang dahulu, terlalu lama melihat lampion membuat diri ini lupa sejauh mana telah menjejak, sedamai apa rasa dalam satu tarikan nafas, bagaimana rasanya mencintai hidup secara lebih berirama. Aku terlalu lama lupa dan meninggalkan aku sebelum mengenalmu.

Ananda tersayang, jika kamu melihat senja.. itu aku, dan hatiku yang kutitipkan disana..
Selamat mengangkasa..
(ADA)


Kisah ini berkaitang dengan Pertanyaan., Silaturahmi., dan Kata.

Silaturahmi.

Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita selalu bisa membuat semua lebih bersahaja-
Payung Teduh

Selamat berhari raya! Hari yang ditunggu, adalah hari kemenangan seluruh umat muslim setelah 30 hari berjuang menahan hawa nafsu serta lapar dan dahaga. Tentunya, salah satu nafsu yang harus kulawan adalah melawan untuk memikirkan kamu.

Hadiah dalam bulan ramadhan adalah hati yang kembali fitri, hati yang lebih lapang serta saling bermaaf-maafan. Perayaan paling sederhana untuk bocah kecil mungkin dengan memenuhi isi tasnya dengan amplop dari kakak-kakak. Siapa tau uangnya terkumpul untuk bisa beli sepatu bola atau barbie yang cantik. Ah, sungguh bahagia
Bahagia untukku bisa jadi lebih sederhana. Berkumpul. Saling berpelukan dan bermaafan. Bisa berjumpa dengan kerabat jauh yang hanya bisa disaksikan dalam jendela maya. Menanggapi diskusi atau kritik serta kabar sambil minum sirup dan nastar. Terlalu manis bukan?
Ada satu kebiasaan dalam keluargaku, adalah bersilaturahmi kerumah sanak saudara, termasuk berkunjung ke rumah kamu. Kerumah yang di terasnya kini dipelihara lovebirds langsung dari belanda. Begitu cantik, manis dan romantis. Kamu bilang kamu sudah membeli  bukunya, sejarah burung love birds. Ah kamu, masih yang begitu.

Dan membicarakan kamu, seperti menuang kopi di pagi hari. Seruput pertama tentang memori, seruput kedua untuk percakapan hari ini, dan seruput ketiga dan seterusnya untuk kejadian setelahnya..
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf untuk hati yang nakal. Tidak pernah mau mendengar..
(ADA)


Catatan: Kisah ini berkaitan dengan Pertanyaan., Lampion., dan Kata.

Pertanyaan.

Pernahkah kamu menginginkan seseorang hingga kamu sendiri tidak pernah menginginkan yang lain sehingga merasa satu saja cukup?
Aku membaca tentang rasa, tentang luka yang dialami lana hingga merasa kepalaku begitu mendedah didih.
dadaku selalu mencelos ketika ada yang bertanya tentang apa dan bagaimana setia dan bodoh bisa teraduk dalam satu kesatuan.
Apa ini benar cinta? Atau hanya hasrat yang kisahnya berharap nyata?
Pernahkah kamu menginginkan seseorang hingga kamu sendiri tidak cukup hanya menangis dan merengek seperti anak ingin dibelikan permen? Aku memiliki dunia yang aku cintai dari pantulan sinarmu. Aku adalah wujud dari apa yang kamu harapkan meski sejauh ini hanya terasa bayang. Aku mau kamu tapi aku diam. Aku suka kamu dalam setiap ucap yang kau sampaikan
Pernahkah kamu menginginkan seseorang sampai kamu sendiri merasa daya yang kamu miliki luluh lantak menderas ke seluruh nadi hingga kamu sendiri begitu letih untuk berucap : "jangan pergi aku belum sempat bilang.."
(ADA)

Catatan: Kisah ini berlanjut ke Silaturahmi., Lampion., dan Kata.

Tentang Rasa (Sekuel)

Fly a kite today

Hai Kamu,

Apa kabarmu?


Aku lelah. Lelah pada permainan apapun ini yang sedang kita mainkan. Kau berperan sebagai sosok yang tenang, seolah hal yang kulakukan tidak mempengaruhimu sama sekali. Jangan bodoh! Kita berdua tahu, hal tersebut mengganggumu. Membuatmu serba salah bagaimana menghadapiku. Dan emosiku. Dan egoku. Dan dramaku.
Sedangkan aku, aku berperan sebagai sosok yang berpura-pura baik-baik saja. Tetapi, kita berdua pun tahu, aku tidak baik-baik saja. Hal yang kulakukan membuat semuanya berantakan. Sekarang aku serba salah menghadapimu. Dan kecanggunganmu. Dan kehati-hatianmu. Dan kebohongan-kebohongan kecilmu.


Aku lelah. Pada semua rencana yang kau buat hanya untuk kau hancurkan di menit-menit menjelang rencana itu dilaksanakan. Sebenarnya aku yang terlalu berharap banyak pada rencana-rencanamu itu? Atau kau yang tidak tahu bagaimana mengatur waktu agar semua dapat terlaksana sesuai harapan?


Aku lelah pada pertanyaan: "Kau baik-baik saja?" Bagaimana aku harus menjawab? Kalau aku sendiri tidak tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak. Aku lelah menghadapi pertanyaan: "Masih menyukainya?" Bagaimana aku harus menjawab? Kalau aku tahu 'tidak' adalah kebohongan, sedangkan 'Iya' bukanlah jawaban yang tepat.


Aku lelah berusaha memperbaiki segalanya. Segala yang aku rusak. Satu malam, aku bersyukur aku melakukannya, sehingga aku tidak perlu tenggelam dalam spekulasi. Akan tetapi, di malam-malam lainnya aku justru menyesalinya. Menyesali telah merusak hal yang sudah terbina di antara kita. Sekarang aku harus menanggung semua. Menanggung permainan layang-layangmu. Ah, iya, kita ini permainan layang-layang. Kau pemainnya. Aku layang-layangnya.



Hai Kamu,


Pernahkah kau menangis hingga tertidur dan terbangun merasa seperti orang dungu? Semoga tidak. Cukup aku, bukan? Kumohon, bawa aku seutuhnya atau tidak sama sekali. Jangan tinggalkan aku dalam tanya. Karena aku lelah. Beri aku kepastian: Ijinkan aku memperbaiki kita. Atau ijinkan aku untuk menyerah dan pergi.





(Ini adalah curahan hati tentangmu, yang tidak akan pernah tersampaikan. Aku sedang belajar untuk tidak berdoa-untuk-meminta, tetapi kali ini aku kalah. Aku meminta, ralat, memohon pada Tuhan agar sekali ini saja aku dapat mengetahui apa yang ada di dalam hatimu)


(P.S. Ini sekuel dari Tentang Rasa)


LA.

Satu Sore

Mengencani penyair, menikah dengan penulis
Tidak ada yang memiliki cita-cita sesederhana kamu
Memiliki impian untuk selalu bersama orang yang memiliki imajinasi yang lebih
Memiliki teman hidup yang kisahnya bisa dibaca dan diceritakan anak cucu
Dan tukang dongeng itulah pekerjaanmu
"Once upon a dream..."
"Once upon a time..."
Menjadi kasih yang merindu hingga senja menutup
Menjadi debur yang menjadi kabur
Mengombak hingga karam ke tepian
Be brave. Let love in..
Selamat hari puisi, selamat menunaikan ibadah puisi..

(ADA)

Tentang Rasa


Pict: Pinterest

Malam ini kita bebaring di atas rumput, memandangi bintang-bintang. Seketika aku berpikir ini adalah saat yang tepat untuk berbicara denganmu. Berbicara tentang rasa.

Kukumpulkan segenap keberanian dan kuruntuhkan segala harga diri, membisikkan, “Aku rasa aku menyukaimu”

Seketika kau menoleh dan berkata, “Apa?”

Tanpa mengalihkan pandanganku dari bintang-bintang, kuucapkan sekali lagi dengan lebih lantang, “Aku rasa aku menyukaimu. Rasa suka yang tidak biasa. Ya, Kau pasti mengerti”

Kemudian keheningan menyelimuti kita. Lima menit tanpa kata. Lima menit tercanggung dalam hidup kita.

Kau bangun dan duduk. Aku mengikuti. Kau ubah posisi dudukmu, menghadapku. Sekarang kita bertatap muka. Aku yakin kau pasti mendengar desir aliran darahku.

Kau menatapku tepat di mata dan berkata, “Aku juga menyukaimu. Sebagai sahabat. Sahabat tersayang”.

Kurasakan desir darah dan degup jantungku tak karuan, tetapi tak lama kemudian melambat dan kembali pada ritmenya.

Aku sudah menduga itu yang akan kau ucapkan. Sepertinya aku sudah terlalu mengenalmu, atau mungkin kau yang terlalu mudah ditebak. Entahlah.

Lalu, aku tersenyum dan berkata, “Aku hanya ingin kau tahu. Karena rasa ini punya hak untuk diketahui”.

Aku menghela napas lega.

Dan tersenyum lebih lebar.


(Note: Kisah ini berlanjut ke Tentang Rasa (Sekuel))


LA.

Popular Posts

Frasa. Powered by Blogger.