Ezat
Sebab engkau adalah
Rima yang menari
Diksi yang melingkupi gagasan
Lengkung kata dalam tiap bait
Yang membuat aku enggan menulis Puisi
Sebab engkau adalah
Rima yang menari
Diksi yang melingkupi gagasan
Lengkung kata dalam tiap bait
Yang membuat aku enggan menulis Puisi
Serui seiring dengan waktu
Menjelma haru dan mengikat
Pulau kecil tanpa cerita
Kini merenda rindu
Seruiku yang kutak tahu rupanya
Mendapatkan kamu yang sebentar bertamu
Menjejal asa dan mimpi yang mengusik
Mendapati kamu.
Akupun terpedaya rasa
Membuka rahasia yang dulu sempat tercecar
Melipurkan Lara dan membangun kisah
Yang kueja dalam metafor sederhana
Serui senantiasa mengantarkan kamu
Dalam hitungan mil
Serui dan kamu mencipta soneta
Yang terlarut dalam diksi
Merepih hari, dalam romansa
Kucinta engkau, Serui
Dan tiap detik genggamannya.
ADA
Pada lantai empat puluh enam perempuan itu kesepian gundah gulana melihat tumpukan pekerjaan, khayalan pangeran, dan gelimangan tumpukan berlian yang konon masih bernama impian setelah dua tiga tahun dinyanyikan lagu gaudeamus igitur.
Pada lantai empat puluh enam perempuan itu menceritakan kisah pada rintik hujan dan gerimis, pada awan mendung bersama secangkir teh chamomile yang belum habis ia seruput.
Ia menceritakan kisah tuhan yang melepaskan balon tepat waktu satu demi satu. Seperti hujan yang pasti habis di sore itu.
Dalam senja yang temaram
kucari kau dalam kelengangan dalam
Kucari kau dalam terang hati
Dalam damai yang sembunyi
Senja yang habis dihadapan
Menyapa habis resah yang meringkuk dalam tanya
Ketika nanti kita berada disini, bersama
Apakah sepi masih mengetuk diri dalam kesunyian safarnama?
Aku mencari kau dalam rindu
Yang menyublim di lingkaran sesak
Dalam kabut tipis yang perlahan menghilang
Menyibak ujung timur segara anak
Akankah perjalanan ini berhenti,
Dan kamu bukan lagi sebuah persinggahan?
Hari ini aku sangat ingin belajar menyelami
Tentang mimpi yang absurd, harapan yang fana,
Maupun hati yang dibuat-buat
Dalam ketinggian meter di atas permukaan laut.
Untuk itu aku menyimpan satu nama,
Dan satu tanya tentang kita..
(Mei, 2014)
Aku bilang,
Pagi nanti kita akan menyaksikan mentari bersama
Di Puncak,
Disaksikan awan dan gunung di seberang
Tapi bayanganmu mundur gelisah
Dari balik pohon pada kilat senter
Dini malam.
Dan aku maju
Melintasi igir Puncak
Sendirian
Mengantongi tekad
Mengantongi sisa semangat
Menjemput impian
(Mei, 2014)
I feel like so sad and tired
So I called my knock-knock man.
Hello mister, are you there?
And then he said 'please, come in'
Life is kinda like bitch
Grawling and trembling
I wasted all my time in pretending
Then I ask my knock-knock man
And he sit besides me
Start listening
My knock-knock man isn't perfect
But he always there
Beyond my sufferring
To be my medicine
I placed his heart
In the bottom of my heart
Keeping his promise to be always here
And be my forever knock-knock man.
Ia tahu segalanya tak akan lagi pernah sama. Semenjak vonis yang dijatuhkan dokter menimpa jantung keluarganya. Ia tahu, semuanya akan mulai berbeda sejak saat itu.
Tapi bukan kesenduan yang harusnya mengalir disini, ada sekepal semangat yang tumbuh dan meluaskan setiap bagian yang menjadi keluarga. Tidak ada yang tertinggal. Orang yang disayang adalah orang yang paling pantas untuk diselamatkan.
Waktu mengubah segalanya, tapi tidak perasaannya. Tidak harapannya. Meski kadar itu semakin memudar, dia tetap sosok yang sama. Segalanya masih berpintu, segalanya masih mungkin dan berjendela.
Ketika peluk menembus segala luka, meresap dalam pori kulit dan menghujamkan energi dalam aliran darah, merum-rum hingga ke sesela sum-sum, menghujat sakit dan membilas segala perih..
Suatu hari setelah hujan reda, saat matahari bersinar menyusup dalam proses fotosintesis, membaui hara yang basah, membias dalam tempiasan hujan hingga menghadirkan senja yang lebih temaram.
Suatu hari, pelukan itu akan melepaskan segala kesedihan..
Sudah lama aku memimpikan kota
Dimana cahayanya mistik berpadu dengan bangunan antik
Megah, dan sangat berbeda dari rumah
Kemudian aku menemukannya, dan jatuh cinta karenanya
Sebuah kota yang cahayanya berkilau membias laut kala malam itu
Yang cahayanya dapat menembus sebuah rawa yang penuh perdu
Aku jatuh cinta pada keberaniannya yang anggun dan sederhana
Menggelora dalam sepi dan berbisik ketenangan
Membalut bayangan kota impian
Dan seketika aku paham
Tidak akan bisa setenang cahaya dan secantik itu
Bila sebelumnya tidak menempa beban yang berat
Dan untuk seperti itu tidak perlu waktu lama, hanya waktu yang tercurah tak habis-habis.
Mimpi. Ada. Menggelora. Dan tetap hidup.
Di balik jendela. Gadis itu memandang langit yang pucat
Apa sebab air mata masih bisa jatuh untuk kisah yang itu-itu saja?
Kabut putih turun perlahan. Menyisihkan pemandangan hutan basah di Gunung Merapi yang berbias mistik di balik jendela
Menanggapi perjalanan yang panjang dan bergerak maju ke kotamu
Gadis itu menatap di balik jendela. Pada kereta yang berjalan meninggalkan persawahan. Mempertanyakan:
'Apa sudah memeluk dirimu hari ini?'
Ini perjalanan tentang rindu. Tentang kepulangan dua anak kecil yang bercengkrama di bawah pohon asam sambil memungut biji permainan congklak. Tentang yang dewasa yang sudah lelah berjalan.
terlalu lama menatap tinggi
terlalu lama cinta
telalu lama percaya
terlalu lama merindu
terlalu lama bertahan
terlalu lama menanti
Hingga tersesak dalam sebuah lamun yang panjang.
(ADA)
Suara gemuruh yang terdengar menembus dinding kamar itu
Merayap menguasai ruangan flouroskopi yang dingin
Bunyinya menampiaskan bulir air mata yang turun
Bekas sisa derap perawat yang mencatat dalam sebuah map
Gemuruh itu terdengar luas dan mulai terasa mencekam
Ada pucat yang ia bawa kepada bantal putih, aroma karbol menusuk
Juga pada bunyi alat kokoh yang kau sebut mesin pemeriksa
Kamu tegang, kamu gentar
Gemuruh menceritakan tentang salam
Dari keterbatasan manusia mengupayakan dirinya,
Masih ada Tuhan yang punya kuasa atas segala
Dalam doa yang berulang, sajadah yang membentang
Gemuruh di luar tahu, bahwa mereka yang lemah sudah sakit
Gemuruh itu tahu, rumah sakit, kamu dan kanker bukanlah teman yang akrab. Tapi selalu didekatkan
Dan tanpa disengaja, dikuatkan
Gadis cantik terkulai lemah
Matanya redup bibirnya pucat
Air matanya menitik dari ujung matanya
Bercerita lelah, berkata ingin sudah
Jangan menyerah, jangan sampai kalah..
(ADA)
Jika perjalanan ini adalah sebuah kesinambungan
Biarlah hidup mengalir dan aku tetap berjalan
Mengeja setiap jarak yang dianggap sesak
Sehingga berarti dan tidak selalu biasa-biasa saja.
Apakah kau masih mengingat
Masa dimana kita berdiri sambil menunggu layar terbuka
Dimana musik menjelma menjadi nyawa yang mengantarkan gerak
Dan sejenak setiap derap langkah kita penjadi perhatian?
Lampu sorot dinyalakan, berurutan dengan dialog yang telah kita hapal dan melebur menjadi sosok yang bukan sosok kita, tapi menjelma menjadi kita dan berpadu
Kali itu kita berias diri dengan sempurna dan memakai pakaian yang indah
Kau, aku, kita pernah merasakan berada dipanggung itu
Yang sempat membubuhkan air mata dan rona bahagia
Kau dan aku pernah menjadi aktor yang disaksikan banyak penonton
Pernah bangga bersama, dan berdiri membawa cerita yang sama
Sudah lama kita tidak berjumpa,
Kini bertemu dan aku rindu.
(ADA)
kepada Teater Sastra.
Ia menyimpan senja dibalik bola matanya
Ada lelah yang sembunyi
Mengintip lewat binar dan teduh
Memejam dan malu
(ADA)
Aku penari jalanan,
dengan rambut berponi dan gelang gemerincing
kakiku basah tanpa alas ikut memainkan melodi hujan yang berisik
lenggok tubuhku mengayun membentuk awan dan berputar
tanganku piawai melekukkan gerakan naik turun dalam trotoar
Aku penari jalanan,
gaunku berwarna putih berpita perak
dalam tarianku membawa berember surat cinta yang terkumpul
dari waktu yang singkat dan waktu yang panjang
Dan Hey! tarianku tidak sendirian
ada cerita tuan yang menghias, berirama
selaras dengan pelukan yang terpercik air mata.
kerinduan.
(ADA)
© Frasa.. Powered by Blogger and Manifest. Converted by LiteThemes.com