Showing posts with label ADA. Show all posts

Ezat

Sebab engkau adalah
Rima yang menari
Diksi yang melingkupi gagasan
Lengkung kata dalam tiap bait

Yang membuat aku enggan menulis Puisi

Serui dan Kamu

Serui seiring dengan waktu
Menjelma haru dan mengikat
Pulau kecil tanpa cerita
Kini merenda rindu

Seruiku yang kutak tahu rupanya
Mendapatkan kamu yang sebentar bertamu
Menjejal asa dan mimpi yang mengusik
Mendapati kamu.

Akupun terpedaya rasa
Membuka rahasia yang dulu sempat tercecar
Melipurkan Lara dan membangun kisah
Yang kueja dalam metafor sederhana

Serui senantiasa mengantarkan kamu
Dalam hitungan mil
Serui dan kamu mencipta soneta
Yang terlarut dalam diksi
Merepih hari, dalam romansa

Kucinta engkau, Serui
Dan tiap detik genggamannya.


ADA

Tentang Teman Berbagi.

Dia dipilih.
Oleh hati
Yang mendorong kisah aku dan kamu menjadi kisah kita
Yang membuat mengapa perjalanan kamu menemukan cinta selalu berhenti di tengah jalan
Yang memutus langkah kamu berhenti
Karena kamu merasa telah menemukan.
Dan sekali lagi ia dipilih.
Kamu tahu, kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu akan jatuh cinta
Tapi kamu tahu, diantara kalian akan ada sebuah pita penyambung dua kehidupan kalian
Yang berselam dalam janji kehidupan bersama "nanti"
Secepat itu kamu merasa yakin ketika kalian telah menemukan.
Pria yang selama ini kamu tunggu bertahun lamanya, akan dikalahkan oleh ia yang hadir sekejap dan membangunkanmu dalam lamun pengharapan cinta yang panjang
Seketika hari itu kamu berbahagia
Bukan sekedar berbahagia saat pertama kalinya bergandeng tangan
Bukan sekedar berbahagia di kencan pertama yang mendebarkan
Ataupun berbahagia karna hadirnya yang mempesona
Kamu akan berbahagia dengan sederhana
Yang membuat harimu lengkap.
Untuk kamu, sahabatku
Yang belum melihat pita penyambung itu
Yang belum menemukan tempat tunggu dan berhenti, bersabarlah
Karna kelak penantian Baik itu akan hadir
Disaat terbaik dalam hidupmu yang tidak pernah kamu duga.

Salam sayang,
Aku yang telah menemukan tanda.


Kisah ini merupakan hasil pertemuan kisah Babak Lima Belas Menit

Tentang Kita, Barangkali

Barangkali kita hanya terus berputar seperti dalam lintasan yang berjarak sama dengan bumi yang berputar. Barangkali kita ikut terus berkeliling tanpa tendensi, tanpa tau apa yang benar-benar sedang kita cari. Barangkali kita sedang menunggu kapan satu diantara kita yang mulai berhenti. Bertahan dalam lelah..

Kita, yang sedang bertanya apa makna dari keberadaan aku dan kamu, yang sibuk memahami keadaan dan membaca kamu dan aku dalam cermin yang jernih, yang sedang berandai akan dibawa kemana cerita ini. Kita yang sama-sama butuh dan menganggap telah saling menemukan

Seringkali dalam tiap kewajiban melapor yang terkesan biasa saja. Sarat makna. Yang tak bisa dibahasakan dan diucapkan dalam kata yang sederhana. Tentang kemampuan kita bercerita tentang panorama bulan yang anggun dalam lingkupan milky way, mimpi absurd dan kontemplasi cita-cita, tentang kesadaran untuk saling membunuh waktu dan berbagi hal manis dan rumit. Kita tenggelam dalam haru dalam nyaman rasa sendu sementara dua diantara kita hanya meringkuk malu. Takut bertanya, akan dibawa kemana..

Satu diantara kita telah menyadari, bahwa permainan ini tidak ada dimenangkan siapa-siapa. Bahwa tidak ada pilihan untuk kapan merasa harus jatuh cinta. Dan ketika itu terasa yang ia lakukan hanyalah terjun bebas selepas mungkin hingga sadar ada jarak yang berdiri tegak menyublim tiap rindu yang mencuat

Bukankah seharusnya jarak tidak menjadi masalah ketika telah ada 'kita' dalam baris kata? Bukankah janji itu tidak perlu bila dua diantara kita telah yakin dan mampu?

Barangkali waktu yang telah memiliki jawabannya, barangkali kita sedang menunggu untuk saatnya tiba.. dan barangkali kita dapat membunuh sepi dengan tidak menyakiti diri masing-masing.

*untuk kamu yang belum dapat kusebut sebagai nama*

(ADA)

Secangkir Kopi dan Pagi Yang Fitri

Tuhan selalu mencairkan yang baik dalam setiap kehidupan manusia. Tuhan selalu berkehendak pada bait-bait panjang doa yang dipanjatkan. Yang menunggu untuk dibaca dan dibalas dalam berbagai bentuk melalui pertanda

Semesta juga cair. Ia dapat mengisi rongga apapun yang memenuhinya, dengan perasaan yang seperti musim. Berpindah meski kadang fluktuatif. Ia selalu berpindah

Aku ada dalam satu kesempatan kali ini. Aku bilang telah melepaskan, pada hati yang diam-diam mencari dan begitu nakal. Meminta apa yang belum disiapkan, disetiap doa dan diwujudkan dalam ikhtiar yang aku sendiri tak dapat membaca pertandanya

Aku mengosongkan kotak hati itu. Yang dulu sempat diisi namamu, namun kurasa hatiku tidak pernah belajar dengan baik seperti yang lalu. Sayangku, hati ini kembali terisi dengan sepotong hati yang bukan namamu. Dan betapa lucu ketika hari ini aku bertemu denganmu aku ingin menyampaikan itu..

Sepotong hati yang baru yang hadir tanpa permisi, yang hangatnya mencairkan dan menenangkan seperti buih dalam secangkir kopi. Ia bukanlah aroma kopi yang sesapnya dapat selalu kuingat dan membawa hal yang baik. Buihnya mengajarkan bahwa dalam hal yang baik akan ada sebuah proses yang panjang.. yang harus kau nikmati di tiap prosesnya

Semoga hati ini tidak kembali noda. Dengan pahit yang tersisa dalam secangkir kopi yang mengendap menjadi ampas.

Dari aku yang mulai menikmatimu. Kamu yang baru..

Sajak Satu Sore

Pada lantai empat puluh enam perempuan itu kesepian gundah gulana melihat tumpukan pekerjaan, khayalan pangeran, dan gelimangan tumpukan berlian yang konon masih bernama impian setelah dua tiga tahun dinyanyikan lagu gaudeamus igitur.

Pada lantai empat puluh enam perempuan itu menceritakan kisah pada rintik hujan dan gerimis, pada awan mendung bersama secangkir teh chamomile yang belum habis ia seruput.

Ia menceritakan kisah tuhan yang melepaskan balon tepat waktu satu demi satu. Seperti hujan yang pasti habis di sore itu.

Cerita Senja di Pelawangan Sembalun

Dalam senja yang temaram
kucari kau dalam kelengangan dalam
Kucari kau dalam terang hati
Dalam damai yang sembunyi

Senja yang habis dihadapan
Menyapa habis resah yang meringkuk dalam tanya
Ketika nanti kita berada disini, bersama
Apakah sepi masih mengetuk diri dalam kesunyian safarnama?

Aku mencari kau dalam rindu
Yang menyublim di lingkaran sesak
Dalam kabut tipis yang perlahan menghilang
Menyibak ujung timur segara anak

Akankah perjalanan ini berhenti,
Dan kamu bukan lagi sebuah persinggahan?

Hari ini aku sangat ingin belajar menyelami
Tentang mimpi yang absurd, harapan yang fana,
Maupun hati yang dibuat-buat
Dalam ketinggian meter di atas permukaan laut.

Untuk itu aku menyimpan satu nama,
Dan satu tanya tentang kita..

(Mei, 2014)

Puncak Tanpamu

Aku bilang,
Pagi nanti kita akan menyaksikan mentari bersama
Di Puncak,
Disaksikan awan dan gunung di seberang
Tapi bayanganmu mundur gelisah
Dari balik pohon pada kilat senter
Dini malam.

Dan aku maju
Melintasi igir Puncak
Sendirian

Mengantongi tekad
Mengantongi sisa semangat
Menjemput impian

(Mei, 2014)

Knock-Knock Man.

I feel like so sad and tired
So I called my knock-knock man.
Hello mister, are you there?
And then he said 'please, come in'

Life is kinda like bitch
Grawling and trembling
I wasted all my time in pretending
Then I ask my knock-knock man
And he sit besides me
Start listening

My knock-knock man isn't perfect
But he always there
Beyond my sufferring
To be my medicine

I placed his heart
In the bottom of my heart
Keeping his promise to be always here
And be my forever knock-knock man.

Surat Untuk Sahabat

Dear L and R,

Aku sampai pada satu titik dimana aku takut jatuh cinta,
Untuk memulai suatu hubungan yang baru dan tidak dibumbui ketakutan masa lalu
Kamu tahu, aku ini orangnya tidak mudah
Dan rasa takut itu sering menyergap tiba-tiba sama seperti kehadiran sosok baru dalam hidupku

Iya, aku takut jatuh cinta sampai setengah mati
Jatuh cinta yang membuat jantung berdetak tidak karuan sampai mau copot
Jatuh yang tidak sakit tapi memunculkan banyak kupu-kupu di lambung
Aku takut jatuh, terbang bebas dan lupa daratan
Setakut itu sampai terasa akan mati betulan

Iya L, iya R.. benar
Saat ini kurasa aku menemukan seseorang yang membuatku kembali seimbang
Seseorang yang dapat kuceritakan tentang apapun dan kapanpun
Yang selalu muncul dipagi hari dan selalu menjadi pengantar tidur di malam hari
Seseorang yang membagi pengalamannya, menghabiskan waktunya untuk menjadi peta yang sederhana tapi sangat menarik untuk kuajak berpetualang
Aku menemukannya, sekaligus takut karenanya..
Aku takut hanya sebelah, dan hati ini kembali terbelah

Sudah dulu ya, nanti kapan-kapan aku lanjutkan ceritanya
Yang pasti sekarang ini bantu aku kembali waras
Karena setengah mati berarti setengah hidup
Dan aku takut ini makin terasa jauh.

Tolong aku..
Ini bukan asmara..

Game Of Love.

I realize that I could love him, but it would never work out.
He has a world, a place, and friends, and I have mine too.
And neither of us would give up anything for the other.

But seriously, what are we playing?

Maybe this little game called love we play is now becoming the waiting game.
Waiting for who's going to fall first, waiting for who's going to say 'i miss you first', and waiting to hurt first.

I win, only to lose.

Dua Warna

Hari ini pasti aku kembali dan membereskan semuanya, tanpa terkecuali. Tapi saat ini aku harus pergi, sebentar saja. Meski aku tak tahu pasti sampai berapa lama.

Sketsa itu kembali kamu arsir lagi, garis demi garis yang bersinggungan satu demi satu. Ada yang berbeda pada gambarmu kali ini. Kamu melukisnya dengan jiwa. Pada setiap simbol yang kamu mainkan. Dalam tujuh naungan inti 7 draft sketsa yang kamu arsir bergantian. Tentang kebanggaan, kemarahan, kemalasan, nafsu, dengki, kerakusan dan juga keserakahan. Tentu saja seharusnya aku tidak kaget. Kamu kehilangan sebelah hatimu dalam tangkupan 7 dosa terbesar. Mungkin dengan meluapkan kemarahan kamu bisa mengingat jiwa kekasihmu yang bercampur melankoli. Dendam pada sesuatu mungkin memudahkan kita membuang apa yang ada dalam jiwa dengan lebih ringan. Tapi mendendam pada lingkungan yang katanya telah diciptakan untuk kepentingan manusia adalah apa yang jauh dikatakan dengan mudah. Jiwanya lelah seiring goresan sketsa yang mau selesai.

Benar apa kata hati, bahwa waktu belum tentu bisa membersihkan apa yang ada dalam bejana luka. Seiring goresan kepulangan yang sia-sia ada banyak hal yang luput dari ingatan. Yaitu keikhlasan. Pada dunia yang hitam putih kamu mengiring semua arsiran tebal dan tipisnya kebenaran. Tidak ada yang abu-abu. Warna cuma ada dua yaitu hitam dan putih. Dan seharusnya ia segera menyelesaikan sketsa itu untuk diletakkan pada muka jendela sehingga semua bisa mengintip dengan jelas.

Pada noda yang mengantarkan puan keharibaan. Dengan segala putih dan kebenaran yang adil. Tuhan mempertontonkan kuasanya atas nasib. Pada tali tiang yang menggantung. Ia hadir, menjemput sang pujaan.

'Kamu bilang kamu datang, kenapa tidak mampir?' Hanya muncul dalam lembar utama harian ibukota: seorang politisi mati diperkosa, saat hari penetapan pengumuman badan anggota legislatif negara

Pelukan Yang Melepaskan Kesedihan.

Ia tahu segalanya tak akan lagi pernah sama. Semenjak vonis yang dijatuhkan dokter menimpa jantung keluarganya. Ia tahu, semuanya akan mulai berbeda sejak saat itu.

Tapi bukan kesenduan yang harusnya mengalir disini, ada sekepal semangat yang tumbuh dan meluaskan setiap bagian yang menjadi keluarga. Tidak ada yang tertinggal. Orang yang disayang adalah orang yang paling pantas untuk diselamatkan.

Waktu mengubah segalanya, tapi tidak perasaannya. Tidak harapannya. Meski kadar itu semakin memudar, dia tetap sosok yang sama. Segalanya masih berpintu, segalanya masih mungkin dan berjendela.

Ketika peluk menembus segala luka, meresap dalam pori kulit dan menghujamkan energi dalam aliran darah, merum-rum hingga ke sesela sum-sum, menghujat sakit dan membilas segala perih..

Suatu hari setelah hujan reda, saat matahari bersinar menyusup dalam proses fotosintesis, membaui hara yang basah, membias dalam tempiasan hujan hingga menghadirkan senja yang lebih temaram.

Suatu hari, pelukan itu akan melepaskan segala kesedihan..

Kota Impian.

Sudah lama aku memimpikan kota
Dimana cahayanya mistik berpadu dengan bangunan antik
Megah, dan sangat berbeda dari rumah

Kemudian aku menemukannya, dan jatuh cinta karenanya
Sebuah kota yang cahayanya berkilau membias laut kala malam itu
Yang cahayanya dapat menembus sebuah rawa yang penuh perdu

Aku jatuh cinta pada keberaniannya yang anggun dan sederhana
Menggelora dalam sepi dan berbisik ketenangan
Membalut bayangan kota impian

Dan seketika aku paham
Tidak akan bisa setenang cahaya dan secantik itu
Bila sebelumnya tidak menempa beban yang berat

Dan untuk seperti itu tidak perlu waktu lama, hanya waktu yang tercurah tak habis-habis.

Mimpi. Ada. Menggelora. Dan tetap hidup.

Babak Lima Belas Menit.

Pertemuan pertama kita tidak jelas, apakah bulan Februari atau Januari empat tahun silam. Bisa jadi sebelum itu kita pernah bertemu, berpapasan, bersinggungan atau mungkin aku menjeli kamu baru-baru ini.

Tapi aku ingat ketika pertemuan kita tidak pernah bisa dihitung lama. Kisah sebentar.

Tentang pertemuan di halte kampus dan sama-sama menunggu hingga akhirnya aku berlari untuk mengejar bus biru dan kamu merah

Tentang pertemuan di tiap-tiap rapat suatu organisasi kampus yang sangat minim frekuensi. Meski saling mengetahui

Tentang pertemuan di tempat mengajar yang selalu tergesa karena aku selalu tepat waktu. Ya, kelas mulai jam 10 pagi dan jam 10 pagi itulah aku datang dengan rambut basah dan tidak tersisir tersapu angin dari atas ojek motor

Tentang pertemuan di belakang balairung dimana kamu berwisuda dan aku yang berlarian tidak karuan karena hujan dan aku sangat amat tidak kece saat itu. Aku ingat.

'Sama ujan aja kok takut' itu katamu.

Dan aku tidak pernah tampil maksimal di hadapanmu. Selalu dalam kondisi tidak oke dan tidak layak. Aku masih hafal betul..

Sebenarnya tidak perlu tampil baik dihadapanmu, tentu selama ini kita selalu menjaga jarak seaman mungkin. Karena aku tau sedikit kamu dan kurasa kamu juga demikian. Tentang kamu? Maaf aku tidak mencari tau banyak, hidupku fokus untuk satu pria yang melirik aku tiap haripun tidak. Yang kutau kamu baik dan calon sukses segala hal. Dan aku memang tidak harus tampil maksimal.

Tapi kemarin berbeda. Aku ingin mengikis semua pendapat tentang gaya yang cuek yang aku bangun sebelumnya. Aku ingin lebih berhias ala bersahaja. Tapi tidak berlebihan. Setidaknya lebih rapi. Alih-alih sudah memikirkan kaus dan warna jilbab senada aku jadi lupa mengerjakan tugas yang seharusnya. Dan ini memang menyenangkan, aku tidak tau bagaimana ini bermula tapi aku suka menikmati prosesnya.

Hari itu. Entah mengapa, tidak berjalan semestinya. Kita memang tidak pernah bertemu dalam situasi yang normal. Aku kembali acak-acakan, terburu-buru, dan kamu yang tetap diam dan tenang.

Hari itu. Yang tidak pernah dijanjikan dari sebelumnya. Tentang awal pertemanan. Tentang awal disisipkannya kepercayaan. Untuk mula dari hal yang dilandasi kepercayaan. Entah kenapa, manis.

Hari itu tentang babak lima belas menit dan sapaan setelahnya. Semoga membuka hal yang baik. Tanpa janji, tanpa andai, dan sesederhana keindahan savana seperti dalam pembicaraan kita.

Semoga, suatu hari nanti kita dapat bertemu dalam keadaan yang lebih baik.

Salam

Kembali Pulang.

Saat memulai perjalanan menyusuri tempat kembali para pengelana,
Tempat singgah para pecandu ketinggian
Tempat hempasan sementara lelah
Engkau pulang,  kembali ke rahim pertiwi

Mungkin cinta dapat membuatnya kekal dan bebas dari suatu rahasia,
Tapi perjalanan kita membuka luka
Yang semakin dalam dan membebaskan air mata menggenang.
Hempas.

Dan barangkali aku harus abai terhadapmu,
Terhadap apa yang dipilihnya untuk berlalu
Mesti perjalanan dan waktu membawa kita berrendevous
Membuat kita tersenyum saat melintasi pohon tua
Atau sekedar lewat genangan deras yang airnya melegakan dahaga.
Pada bunga rambat yang mengungu. Dalam hutan yang menjadi kelam

Barangkali aku harus abai pada permintaan untuk bersikap biasa-biasa saja setelah kejadian kemarin.
Pada apa yang telah luruh disapu kisah cinta yang menggelincir di hari kemarin.

Mandalawangi, engkau bercerita.. engkau menerima..
Dalam lengkung kabut tipis yang memeluk pelan hamparan edelweiss yang dingin
Mengajak pulang, mengajak bersandar..

Untuk itu aku terima kasih.

Gadis Di Balik Jendela

Di balik jendela. Gadis itu memandang langit yang pucat
Apa sebab air mata masih bisa jatuh untuk kisah yang itu-itu saja?

Kabut putih turun perlahan. Menyisihkan pemandangan hutan basah di Gunung Merapi yang berbias mistik di balik jendela
Menanggapi perjalanan yang panjang dan bergerak maju ke kotamu

Gadis itu menatap di balik jendela. Pada kereta yang berjalan meninggalkan persawahan. Mempertanyakan:
'Apa sudah memeluk dirimu hari ini?'

Ini perjalanan tentang rindu. Tentang kepulangan dua anak kecil yang bercengkrama di bawah pohon asam sambil memungut biji permainan congklak. Tentang yang dewasa yang sudah lelah berjalan.

terlalu lama menatap tinggi
terlalu lama cinta
telalu lama percaya
terlalu lama merindu
terlalu lama bertahan
terlalu lama menanti

Hingga tersesak dalam sebuah lamun yang panjang.

(ADA)

Catatan Desember

Risiko. Dalam hidup ini tidak ada tempat yang aman ataupun aktivitas yang bebas dari risiko. Semua hal mengandung konsekuensi dan setiap orang pasti pernah mengambil satu resiko besar dalam hidupnya. Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga Mongol. Seorang Nick Jokovic rela beratus-ratus kali jatuh untuk mencoba berdiri dari atas tubuhnya yang tanpa tangan dan kaki. Dan Lori, mendedikasikan lebih dari tiga tahun hidupnya menembus 7 atap langit dunia yang berbahaya tanpa mendapat restu dari ibunda. Semua kepatutan harapan, impian atau keinginan tentulah ada yg dikorbankan.

Termasuk tentang perasaan saya, mengambil risiko untuk berada ditempat seaman mungkin untuk saya agar tidak tersentuh dan merasa aman. Bisa jadi saya tidak seberani mereka dalam menghitung resiko apa dan mana yang kira-kira baik untuk saya. Meski dengan itu saya memang tidak kemana-mana. Saya takut, saya tidak mau terluka. Meski saya juga tau bahwa dengan diam tidak menjamin tidak terluka. Setidaknya selama hampir enam tahun dalam kehidupan saya..

Desember, adalah titik balik perubahan dalam hidup saya. Nampaknya kunci pintu dihati haruslah digedor supaya bisa angkat bicara. Dan rumah sakit menjadi lokasi penakaran yang pantas bahwa usia manusia tidak selamanya panjang. Kamu disini, datang, kembali.. membawa bingkisan senyum yang bisa menghapus luluh seluruh energi yang kupikir habis mengawasi ibu di hari ini. Tanpa diminta, tanpa diingatkan.

Hmm.. saya pikir saya juga sudah lelah pada permainan ini.. pada scene yang telah kamu buat, pada drama yang akhirnya saya ciptakan. Kali ini saya pikir harus mengambil risiko. Risiko yang seharusnya dari dulu saya ambil, tanpa mengabaikan nurani. Saya sudah terlalu jatuh sama kamu. Dan kamu terlalu naif jika menganggap ini kebetulan, bahwa saya jatuh cinta pada seorang yang hanya bisa kulihat dan kusenyumi dari dekat tapi tidak hatinya. Terserah kamu peduli atau tidak, karna pada akhirnya saya memang sudah kehilangan kamu dari awal dan akhir.

Sekali lagi kita bertemu, diawal desember yang hujan, di antara kamar-kamar bisu dan bau alkohol karbol rumah sakit. Dan kali ini saya tidak menunduk, tidak cuma tersenyum, tidak hanya menatap dan mengangguk.

'saya. pernah. jatuh. cinta. sama. Mas' saya telah jelas mengatakannya, saya lega mengatakannya, dan seketika saya merasa mulas. Hahaha bukan karna momennya memang tidak pas, tapi karena saya berbohong. Saya masih cinta..

Dia diam. Saya diam. Lama.. membuat saya sangat ingin kembali menunduk.

***

Kami berpisah di lorong panjang tempat lift berada. Mengantarnya sampai ke pintu dan entah kapan akan kembali bertemu. Tidak ada yang berbeda. Karena memang tidak ada pinta.

Di ujung lorong di depan lift ia berdiri membelakangiku, kemudian berbalik memandangku. Memberikan senyuman dan mengucapkan terimakasih. Untuk pertama dia mengambil tangan ini.

'Sampai bertemu kembali, terimakasih dan jaga diri jangan sampai sakit' ia menepuk kepala dua kali, sebelum lift membuka dan sebelum kujawab terimakasih.

Terimakasih, iya dan sampai jumpa. Tiga kata yang selalu kukunci untuk dijawab. Yang kupikir ini bagian dari risiko yg kutelan dari hilangnya perhatian. Dan perubahan drastis yang reaktif

Dalam hal ini, bisa jadi cinta saya bertepuk. Tapi cinta ini penah melakukan sesuatu. Dan tidak diam

Dia cukup mencari tempat, dimana cinta memang telah ditunggu dan diterima.

(ADA)

Perkara Hati.

Banyak yang bilang bahwa cinta itu bukan sekedar meminta kepemilikan hati orang tersebut. Bukan perkara menyatukan ego melainkan sebuah proses tak berkesudahan ketika hasrat cinta yg membara di awal dan harus terus terjaga panasnya. Cinta juga bukan sekedar kewajiban melapor sambil menceritakan sedu sedan dan bahagia dalam satu hari itu. Bukan pula seperti cerita ftv atau kisah-kisah yg ditulis pablo neruda dan kahlil gibran. Tidak pernah selamanya manis, puitis dan penuh dengan gombalan manja.

Ah! Tahu apa aku menyoal cinta. Aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan rasanya sangat dalam. Sementara untuk mengambil contoh mungkin harus belajar banyak dari yang mengalami banyak cinta, meski hanya mampir di tepi.

Cinta itu muncul dari hal-hal sederhana. Dari kebiasaan yang membuat nyaman. Cinta itu selalu mengupayakan keberadaan, selalu hadir. Cinta juga mengupayakan kebahagiaan, mengesampingkan lelah yang dipunya. Dan berbagi. Berbagi untuk saling memberi dan memenuhi.

Kira-kira begitu.. pastinya aku tidak tahu.

Yang kutahu hari ini aku bertemu membuat janji dengannya. Tidak berdua. Tapi aku dengan orang tuaku dan dia dengan orang tuanya. Untuk bersama membantu.  Sebelum fajar mengintip aku sudah di muka halaman rumahnya. Mengambil pak-pak kardus buku yang entah berapa banyak isi buku didalamnya. Semuanya dia bawa tanpa sisa. Dia pindahkan untuk rumah dia yang baru.

Aku masih ingat ketika peluh jatuh dari kening kepalanya. Mengucur deras dari kulitnya yang halus dan mulai ditumbuhi keriput halus. Aku penasaran sudah berapa banyak buku yang ia baca. Penasaran bagaimana ia selalu mencari relevansi teori dari pengalaman yang ia punya. Aku tahu dalam hal ini aku hanyalah adik kecilnya, yang bisa membantunya mendesain rumah mungilnya untuk disulap sebagian menjadi ruang perpustakaan. Iya, aku penasaran.

Siang itu, sambil merapikan buku yang mulai disusun, kubiarkan pembicaraan berkembang dari hal satu ke hal yang lain. Caranya menatap masih sama, caranya bercerita juga masih sama. Dan tanganku berhenti pada buku tersampul yang tertambat di mataku. "Ini buku pernikahan, belum di baca?" Ujarku penasaran. Ia menjawab bahwa itu akan menjadi hadiah. Untuk belajar membina rumah tangga

Ia bangkit berdiri, berjalan beberapa langkah yang membawanya pada satu buku bersampul. "Ini juga hadiah buat kamu. Biografi. Bagus isinya" aku diam tidak bereaksi apa. Aku tidak meminta buku. Aku hanya ingin ceritanya. "Mas tahun depan menikah dek. Doain aja ya lancar semuanya". Buku yang ditanganku mendadak jatuh, aku pukul mundur mengambilnya dan mengalihkan pandangan. Ini sudah kuduga, ini yang sudah dipersiapkan, ini jawaban dari doa. Atas nama kepatutan aku bangkit, mengambil buku dan menyeimbangkan senyum dengan sederet gigi. "Selamat ya" hanya itu, hanya itu yang bisa diucapkan.

Tidak. Ini tidak sesakit yang kubayangkan.

Aku terdiam sejenak di sudut rak kayu yang masih baru bau cat. Disudut ini nanti dihuni oleh mereka pasangan baru. Aku beruntung dapat berperan disini, menempelkan karyaku yang dapat diingat setidaknya sampai ia memutuskan untuk mendekor ulang. Akupun sudah cukup mengambil banyak dari sini. Belajar untuk menyalurkan ilmu keikhlasan, keseimbangan, kebahagiaan dan rasa rindu yang menggebu menjadi satu keutuhan. Aku belajar menerima, dan mencintai dengan baik. oke, dua kalimat terakhir tidak sepenuhnya benar!

Setidaknya aku masih punya daya.

Daya untuk berupaya tidak mengabulkan apa yang diminta hati. Daya untuk tahu diri. Bahwasanya yang fana adalah ketidakberdayaan untuk bangkit.

Danke banyak voor dorang. Tete manis sayang dorang senantiasa.. beta seng akan lupa dong pung sayang yang lebih dari cukup.

(ADA)

Gemuruh Pengantar Pesan

Suara gemuruh yang terdengar menembus dinding kamar itu
Merayap menguasai ruangan flouroskopi yang dingin
Bunyinya menampiaskan bulir air mata yang turun
Bekas sisa derap perawat yang mencatat dalam sebuah map

Gemuruh itu terdengar luas dan mulai terasa mencekam
Ada pucat yang ia bawa kepada bantal putih, aroma karbol menusuk
Juga pada bunyi alat kokoh yang kau sebut mesin pemeriksa
Kamu tegang, kamu gentar

Gemuruh menceritakan tentang salam
Dari keterbatasan manusia mengupayakan dirinya,
Masih ada Tuhan yang punya kuasa atas segala
Dalam doa yang berulang, sajadah yang membentang

Gemuruh di luar tahu, bahwa mereka yang lemah sudah sakit
Gemuruh itu tahu, rumah sakit, kamu dan kanker bukanlah teman yang akrab. Tapi selalu didekatkan
Dan tanpa disengaja, dikuatkan

Gadis cantik terkulai lemah
Matanya redup bibirnya pucat
Air matanya menitik dari ujung matanya
Bercerita lelah, berkata ingin sudah

Jangan menyerah, jangan sampai kalah..

(ADA)

Popular Posts

Frasa. Powered by Blogger.