
Hari ini pasti aku kembali dan membereskan semuanya, tanpa terkecuali. Tapi saat ini aku harus pergi, sebentar saja. Meski aku tak tahu pasti sampai berapa lama.
Sketsa itu kembali kamu arsir lagi, garis demi garis yang bersinggungan satu demi satu. Ada yang berbeda pada gambarmu kali ini. Kamu melukisnya dengan jiwa. Pada setiap simbol yang kamu mainkan. Dalam tujuh naungan inti 7 draft sketsa yang kamu arsir bergantian. Tentang kebanggaan, kemarahan, kemalasan, nafsu, dengki, kerakusan dan juga keserakahan. Tentu saja seharusnya aku tidak kaget. Kamu kehilangan sebelah hatimu dalam tangkupan 7 dosa terbesar. Mungkin dengan meluapkan kemarahan kamu bisa mengingat jiwa kekasihmu yang bercampur melankoli. Dendam pada sesuatu mungkin memudahkan kita membuang apa yang ada dalam jiwa dengan lebih ringan. Tapi mendendam pada lingkungan yang katanya telah diciptakan untuk kepentingan manusia adalah apa yang jauh dikatakan dengan mudah. Jiwanya lelah seiring goresan sketsa yang mau selesai.
Benar apa kata hati, bahwa waktu belum tentu bisa membersihkan apa yang ada dalam bejana luka. Seiring goresan kepulangan yang sia-sia ada banyak hal yang luput dari ingatan. Yaitu keikhlasan. Pada dunia yang hitam putih kamu mengiring semua arsiran tebal dan tipisnya kebenaran. Tidak ada yang abu-abu. Warna cuma ada dua yaitu hitam dan putih. Dan seharusnya ia segera menyelesaikan sketsa itu untuk diletakkan pada muka jendela sehingga semua bisa mengintip dengan jelas.
Pada noda yang mengantarkan puan keharibaan. Dengan segala putih dan kebenaran yang adil. Tuhan mempertontonkan kuasanya atas nasib. Pada tali tiang yang menggantung. Ia hadir, menjemput sang pujaan.
'Kamu bilang kamu datang, kenapa tidak mampir?' Hanya muncul dalam lembar utama harian ibukota: seorang politisi mati diperkosa, saat hari penetapan pengumuman badan anggota legislatif negara
| Pict: Xian |
Mengenang.
Malam ini.
Setahun yang lalu.
Ah tapi...
Untuk apa mengenang setahun yang lalu,
Kalau kita punya malam ini.
Hari ini.
LA.
Saat memulai perjalanan menyusuri tempat kembali para pengelana,
Tempat singgah para pecandu ketinggian
Tempat hempasan sementara lelah
Engkau pulang, kembali ke rahim pertiwi
Mungkin cinta dapat membuatnya kekal dan bebas dari suatu rahasia,
Tapi perjalanan kita membuka luka
Yang semakin dalam dan membebaskan air mata menggenang.
Hempas.
Dan barangkali aku harus abai terhadapmu,
Terhadap apa yang dipilihnya untuk berlalu
Mesti perjalanan dan waktu membawa kita berrendevous
Membuat kita tersenyum saat melintasi pohon tua
Atau sekedar lewat genangan deras yang airnya melegakan dahaga.
Pada bunga rambat yang mengungu. Dalam hutan yang menjadi kelam
Barangkali aku harus abai pada permintaan untuk bersikap biasa-biasa saja setelah kejadian kemarin.
Pada apa yang telah luruh disapu kisah cinta yang menggelincir di hari kemarin.
Mandalawangi, engkau bercerita.. engkau menerima..
Dalam lengkung kabut tipis yang memeluk pelan hamparan edelweiss yang dingin
Mengajak pulang, mengajak bersandar..
Untuk itu aku terima kasih.
Kita tidak akan tahu apakah ini akan membuat kita lebih banyak tahu atau justru banyak pelajaran yang bisa diambil. Kita tidak sedang memutar arah atau sekadar mengulang apa yang pernah dituliskan orang-orang terdahulu. Perjalanan, adalah bagian dari menemukan diri sendiri sekaligus pelajaran baru dimana kita tidak dapat temukan dalam kurikulum sekolah. Perjalanan dapat membawa kita dalam fenomena memetik ilmu melalui cara pandang, interaksi, pertukaran budaya, cara pengambilan keputusan. Dan itu berbeda dalam segala, yang mana membuat ku kaya dalam bertutur
Catatan ini bukanlah catatan istimewa. Catatan ini adalah pengalaman spiritual dimana saya menguji diri saya sendiri untuk bergumul dengan alam. Mengunci satu pijakan dalam peluh lelah dan membawa pesona untuk direkam panca indera, bau tanah basah, embun pagi yang menempel di pucuk edelweis, menyaksikan savana yang bergoyang lembut bersama udara. Aku menyaksikan kamu larut didalamnya. Aku melihat Tuhan dalam wujud yang nyata. Aku bercumbu dengan Tuhan saat bersenyawa bersama ombak.
GB Shaw pernah bilang, bahwa tempat terbaik untuk melihat Tuhan yaitu di taman, tak terkecuali taman laut. Tapi pernahkah kamu melihat taman hidup? Itu indah, kau bisa mencoba salah satunya di Gunung Argopuro. Sebuah puncak pelataran Dewi Rengganis dengan Taman Hidupnya. Hati-hati terlena, kamu tidak akan bisa berhenti jatuh cinta.
You bear knowledges and experiences to conquer the dreams, you bear all weights to conquer the mountains. Mendakilah bersama, kita menjejak dan biarkan rasa ini tiba dan berujung sampai puncak.
Untukmu, yang belum pernah bertemu dalam satu kesempatan.
(ADA)
Aku ingin menulis surat cinta
Untukmu
Iya, untukmu
Tapi bagian terbesar yang kurasakan dari mencintaimu
Adalah patah hati, karnamu
Bagaimana bisa aku menuliskan hal-hal indah
Kalau hal terakhir yang kuingat tentang mencintaimu
Adalah air mata yang kembali mengalir
Karena ketidakmampuanku menyampaikan "aku merindukanmu"
Tanpa harus membuatnya menjadi beban
Baik untukku, maupun untukmu
Terutama untukmu
Aku ingin belajar untuk mencintaimu dengan sederhana
Tanpa banyak meminta
Karena kita dua manusia dewasa
Tetapi, apakah ini cinta?
Ketika lebih banyak air mata daripada canda tawa?
Entahlah.
Yang kutahu, aku hanya harus bertahan sedikit lagi
LA.
Kamu selalu penuh dengan kejutan.
Untuk menerkamu begitu sulit dan membacamu adalah misteri. Ada getir yang selalu ingin kau sembunyikan dalam tiap garis senyummu. Yang kausahakan tertutup dalam sisi cemerlangmu. Tapi engkau terus bersinar. kamu berdiam seperti senja yang membasuh debu luka para pekerja. Melukis langit yang memukau dan menjadikannya tak terjangkau. Menjadi laut dalam yang tak pernah terselam. masihkah kau bersamanya?
Aku ingin menjangkaumu.
(ADA)
''Kamu mencintai cerita yang kamu buat, dan kebetulan aku disana. Kamu terlalu fokus pada cinta yang kamu kejar sementara diluar sana kamu bisa bertemu dengan cintamu yang sebenarnya''
Aku mengulang barisan kalimat ini. Satu kali. Dua kali. Hingga aku hafal diluar kepala. Kamu menulis dalam pesan pendek dan tidak menjawab atas apa yang aku tanyakan.
Ralat. Aku tak mengajukan pertanyaan, aku hanya mengungkapkan apa yang selama ini terpendam bertahun-tahun dan ketika itu keluar kamu bilang ini adalah rekaan.
Aku sadar tidak semua harus berpeluk, tidak semuanya harus menggenggam dan kamu ada untuk membuatku belajar, belajar bahwa untuk mencintai adalah sebuah proses dan harus terus dirawat. Senantiasa dipupuk. Seperti kamu yang sampai sejauh ini ada disini. Aku merawat untuk untuk terus bertahan menebus mimpi yang kukejar. Yang kita biasa sebut cita-cita
Sayangku, kau bilang menikah itu tidak perlu dan menikah adalah wujud ketidakyakinan pada hakikat cinta itu sendiri sehingga harus melekat dalam institusi pernikahan. Katamu aku sedang melantur bahwa karena desakan lingkungan aku bilang yang tidak-tidak dan begitu ketimuran. Cita-citaku adalah kamu, dan sejauh ini kupikir kita sejalan
Dan barangkali Tuhan sedang bermain-main pada jalan hidupku. Takdir mungkin berkata itu bukan kamu, tapi nasib mencintaimu adalah mutlak ,
(ADA)
Apakah bahagia, berarti ia harus punya?
Hari ini saya keluar rumah, bukan sesuatu yang spesial. Tidak jauh dan dilakukan pada malam hari. Dan ketika saya keluar saya senang melihat pemandangan entah itu pemandangan malam hari atau siang. Oleh karnanya saya sering berpergian. Bagi saya melihat sudah cukup.
Saya masih ingat meski itu cukup lama, dimana bintang bertabur hingga membuat lamun, sepoi samudera hindia di malam hari yang semilir. Atau melihat bintang di ufuk timur jawa barat, melihat bintang hanya sekadar di planetarium. Semua saya upayakan. Untuk sekedar melihat
Melihat orang lain bahagia, melihat ada hal yg menyenangkan yang bisa dibagi dengan sesama dan merasa bersyukur dengan keterbatasan yang dipunya. Itu mutlak. Mengupayakan kebahagiaan itu juga harus. Karena untuk apa hidup jika tak bahagia? Tapi apakah bahagia harus selalu punya?
Hari ini tidak ada bintang, tidak ada semilir angin yg sejuk. Hari ini kosong. Dan untuk bahagia atau tidak, ini tepat pada porosnya. Ah, bahkan untuk melihat saja saya perlu menunggu..
Tabik.
(ADA)
Once upon a time there's a man who came into a girl's life with a bucket of dream. Then he became her first love. And she never love anyone else like him before. The end.
© Frasa.. Powered by Blogger and Manifest. Converted by LiteThemes.com