Showing posts with label Prosa. Show all posts

Just Don't

On The Bed
Pict source: Flickr

Jangan meminta
sesuatu yang pernah kamu tolak



LA.

Saharsa

joy unlimited

Bibir yang selalu melengkungkan senyum
Mata yang seringkali mengerling jenaka
Tawa renyah, menggelegar, dan menular
Seperti virus

Saharsa. Satu bentuk kata yang berarti kebahagiaan
Saharsa. Sebuah kata yang membentuk satu sosok
Kamu

Yang ada dalam diri setiap manusia


LA.

Sepi

Untitled
Pict: Nikoline

Rasa sepi paling absolut bukanlah ketika berada di sebuah konser sendirian. Bukan ketika menonton film di bioskop sendirian. Bukan ketika menikmati secangkir kopi di kafe favorit sendirian. Bukan juga saat makan siang sendirian
Rasa sepi paling absolut justru setelah hari yang begitu panjang dan melelahkan. Aku berbaring di tempat tidurku dan menyadari tidak ada seorangpun di sampingku. Juga tidak seorang temanpun di telepon genggamku yang berusaha menghubungiku

Seorang teman pernah berkata saat perbincangan tengah malam kami,
"Malam tidak selamanya sepi
Tidak juga selamanya gempita
Malam ini bisa saja sepi
Tapi besok pasti (setidaknya) akan sedikit lebih ria"




Aku mengamini itu.


LA.

Dua Warna

Hari ini pasti aku kembali dan membereskan semuanya, tanpa terkecuali. Tapi saat ini aku harus pergi, sebentar saja. Meski aku tak tahu pasti sampai berapa lama.

Sketsa itu kembali kamu arsir lagi, garis demi garis yang bersinggungan satu demi satu. Ada yang berbeda pada gambarmu kali ini. Kamu melukisnya dengan jiwa. Pada setiap simbol yang kamu mainkan. Dalam tujuh naungan inti 7 draft sketsa yang kamu arsir bergantian. Tentang kebanggaan, kemarahan, kemalasan, nafsu, dengki, kerakusan dan juga keserakahan. Tentu saja seharusnya aku tidak kaget. Kamu kehilangan sebelah hatimu dalam tangkupan 7 dosa terbesar. Mungkin dengan meluapkan kemarahan kamu bisa mengingat jiwa kekasihmu yang bercampur melankoli. Dendam pada sesuatu mungkin memudahkan kita membuang apa yang ada dalam jiwa dengan lebih ringan. Tapi mendendam pada lingkungan yang katanya telah diciptakan untuk kepentingan manusia adalah apa yang jauh dikatakan dengan mudah. Jiwanya lelah seiring goresan sketsa yang mau selesai.

Benar apa kata hati, bahwa waktu belum tentu bisa membersihkan apa yang ada dalam bejana luka. Seiring goresan kepulangan yang sia-sia ada banyak hal yang luput dari ingatan. Yaitu keikhlasan. Pada dunia yang hitam putih kamu mengiring semua arsiran tebal dan tipisnya kebenaran. Tidak ada yang abu-abu. Warna cuma ada dua yaitu hitam dan putih. Dan seharusnya ia segera menyelesaikan sketsa itu untuk diletakkan pada muka jendela sehingga semua bisa mengintip dengan jelas.

Pada noda yang mengantarkan puan keharibaan. Dengan segala putih dan kebenaran yang adil. Tuhan mempertontonkan kuasanya atas nasib. Pada tali tiang yang menggantung. Ia hadir, menjemput sang pujaan.

'Kamu bilang kamu datang, kenapa tidak mampir?' Hanya muncul dalam lembar utama harian ibukota: seorang politisi mati diperkosa, saat hari penetapan pengumuman badan anggota legislatif negara

Semudah Itu

Messed up bed
Pict: Xian

Kekacauan yang kauciptakan:
Kau mengajakku keluar seusai jam kantor esok hari
Membuat tidur malamku kacau karena bersemangat

Kekacauan yang kuciptakan:
Aku bangun di pagi hari dengan penuh senyum
Membuat isi lemariku kacau karena bersolek

Kekacauan yang kauciptakan:
Kau mengirimiku sebuah pesan singkat
Menyatakan rencana harus dibatalkan karena keperluan mendadak

Kujatuhkan diri di atas tempat tidur
Seketika kusadari aku dikelilingi pakaian-pakaianku
Seperempat isi lemari ada di atas tempat tidurku

Kubangkit dan mendapati sebuah cermin di hadapanku
Seketika kusadari aku bahkan sudah memoles wajahku
Dengan bedak, pemulas mata dan pipi, bahkan gincu

Hatiku kacau
Aku kembali ke tempat tidurku
Bergumul di bawah selimutku
Dalam pakaian terbaikku
Dengan wajah tersolek cantik

Kantor?
Kantor apa?

Lima menit kemudian pesan singkat lainnya masuk
Darimu. "Maaf maaf maaf. Lain waktu ya"
Aku tersenyum pada layar ponselku
Dan membalas dengan dua huruf "Ok"

Semudah itu aku luluh padamu
Lagi.


LA.

Canggung

Khalil Fong 方大同 Reflection
Pict: HKmPUA

Canggung adalah ketika kamu mencuri pandang ke seseorang melalui refleksi pada kaca jendela. Dan menangkap ternyata orang tersebut sedang menatapmu melalui refleksi yang sama. Lalu, secepat mungkin mengalihkan pandang, menyembunyikan senyum.


LA.

Malam Ini, Setahun Yang Lalu

Mengenang.
Malam ini.
Setahun yang lalu.

Ah tapi...
Untuk apa mengenang setahun yang lalu,
Kalau kita punya malam ini.
Hari ini.


LA.

Kembali Pulang.

Saat memulai perjalanan menyusuri tempat kembali para pengelana,
Tempat singgah para pecandu ketinggian
Tempat hempasan sementara lelah
Engkau pulang,  kembali ke rahim pertiwi

Mungkin cinta dapat membuatnya kekal dan bebas dari suatu rahasia,
Tapi perjalanan kita membuka luka
Yang semakin dalam dan membebaskan air mata menggenang.
Hempas.

Dan barangkali aku harus abai terhadapmu,
Terhadap apa yang dipilihnya untuk berlalu
Mesti perjalanan dan waktu membawa kita berrendevous
Membuat kita tersenyum saat melintasi pohon tua
Atau sekedar lewat genangan deras yang airnya melegakan dahaga.
Pada bunga rambat yang mengungu. Dalam hutan yang menjadi kelam

Barangkali aku harus abai pada permintaan untuk bersikap biasa-biasa saja setelah kejadian kemarin.
Pada apa yang telah luruh disapu kisah cinta yang menggelincir di hari kemarin.

Mandalawangi, engkau bercerita.. engkau menerima..
Dalam lengkung kabut tipis yang memeluk pelan hamparan edelweiss yang dingin
Mengajak pulang, mengajak bersandar..

Untuk itu aku terima kasih.

Cara Pandangmu

Yang marah, yang merindukan
Yang diam, yang berusaha mendinginkan suasana
Yang banyak bicara, yang memedulikan

Namun...

Semuanya kembali padamu dan cara pandangmu


LA.

Catatan Perjalanan (II)

Kita tidak akan  tahu apakah ini akan membuat kita lebih banyak tahu atau justru banyak pelajaran yang bisa diambil. Kita tidak sedang memutar arah atau sekadar mengulang apa yang pernah dituliskan orang-orang terdahulu. Perjalanan, adalah bagian dari menemukan diri sendiri sekaligus pelajaran baru dimana kita tidak dapat temukan dalam kurikulum sekolah. Perjalanan dapat membawa kita dalam fenomena memetik ilmu melalui cara pandang, interaksi, pertukaran budaya, cara pengambilan keputusan. Dan itu berbeda dalam segala, yang mana membuat ku kaya dalam bertutur

Catatan ini bukanlah catatan istimewa. Catatan ini adalah pengalaman spiritual dimana saya menguji diri saya sendiri untuk bergumul dengan alam. Mengunci satu pijakan dalam peluh lelah dan membawa pesona untuk direkam panca indera, bau tanah basah, embun pagi yang menempel di pucuk edelweis, menyaksikan savana yang bergoyang lembut bersama udara. Aku menyaksikan kamu larut didalamnya. Aku melihat Tuhan dalam wujud yang nyata. Aku bercumbu dengan Tuhan saat bersenyawa bersama ombak.

GB Shaw pernah bilang, bahwa tempat terbaik untuk melihat Tuhan yaitu di taman, tak terkecuali taman laut. Tapi pernahkah kamu melihat taman hidup? Itu indah, kau bisa mencoba salah satunya di Gunung Argopuro. Sebuah puncak pelataran Dewi Rengganis dengan Taman Hidupnya. Hati-hati terlena, kamu tidak akan bisa berhenti jatuh cinta.

You bear knowledges and experiences to conquer the dreams, you bear all weights to conquer the mountains. Mendakilah bersama, kita menjejak dan biarkan rasa ini tiba dan berujung sampai puncak.

Untukmu, yang belum pernah bertemu dalam satu kesempatan.

(ADA)

Rasa x Akal

couple

"Sadarkah kamu, kita masih punya satu urusan yang belum terselesaikan?" tanyaku dalam hati.

"Kamu. Kamulah yang punya urusan yang belum terselesaikan. Bukankah kesepakatan sudah dibuat bersama?" Jawab sebuah suara. Bukan suaramu, melainkan suara akal sehatku.


LA.

Jawaban Tentang Rasa


Hai Kamu,

Melalui ini aku ingin mengucapkan terima kasih padamu
Terima kasih untuk malam ini
Terima kasih untuk mengantarku pulang tanpa terasa canggung dan kaku
Terima kasih telah menjawab pertanyaanku
Terima kasih karena jawabannya adalah kau ijinkan aku memperbaiki kita
Aku lega
Aku bahagia
Ini yang terbaik bagi kita, bukan?
Kembali menjadi dua sahabat


(P.S. Maaf, tapi diam-diam aku menyukai kesalahpahaman ibumu mengenai hubungan kita. Aku bahagia semalam beliau menyambutku begitu hangat, dengan pelukan hangat pula. Aku akan memperbaiki yang ini belakangan ya :p)

Note: Tulisan ini berkaitan dengan Tentang Rasa dan Tentang Rasa (Sekuel)


LA.

Tentang Rasa (Sekuel)

Fly a kite today

Hai Kamu,

Apa kabarmu?


Aku lelah. Lelah pada permainan apapun ini yang sedang kita mainkan. Kau berperan sebagai sosok yang tenang, seolah hal yang kulakukan tidak mempengaruhimu sama sekali. Jangan bodoh! Kita berdua tahu, hal tersebut mengganggumu. Membuatmu serba salah bagaimana menghadapiku. Dan emosiku. Dan egoku. Dan dramaku.
Sedangkan aku, aku berperan sebagai sosok yang berpura-pura baik-baik saja. Tetapi, kita berdua pun tahu, aku tidak baik-baik saja. Hal yang kulakukan membuat semuanya berantakan. Sekarang aku serba salah menghadapimu. Dan kecanggunganmu. Dan kehati-hatianmu. Dan kebohongan-kebohongan kecilmu.


Aku lelah. Pada semua rencana yang kau buat hanya untuk kau hancurkan di menit-menit menjelang rencana itu dilaksanakan. Sebenarnya aku yang terlalu berharap banyak pada rencana-rencanamu itu? Atau kau yang tidak tahu bagaimana mengatur waktu agar semua dapat terlaksana sesuai harapan?


Aku lelah pada pertanyaan: "Kau baik-baik saja?" Bagaimana aku harus menjawab? Kalau aku sendiri tidak tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak. Aku lelah menghadapi pertanyaan: "Masih menyukainya?" Bagaimana aku harus menjawab? Kalau aku tahu 'tidak' adalah kebohongan, sedangkan 'Iya' bukanlah jawaban yang tepat.


Aku lelah berusaha memperbaiki segalanya. Segala yang aku rusak. Satu malam, aku bersyukur aku melakukannya, sehingga aku tidak perlu tenggelam dalam spekulasi. Akan tetapi, di malam-malam lainnya aku justru menyesalinya. Menyesali telah merusak hal yang sudah terbina di antara kita. Sekarang aku harus menanggung semua. Menanggung permainan layang-layangmu. Ah, iya, kita ini permainan layang-layang. Kau pemainnya. Aku layang-layangnya.



Hai Kamu,


Pernahkah kau menangis hingga tertidur dan terbangun merasa seperti orang dungu? Semoga tidak. Cukup aku, bukan? Kumohon, bawa aku seutuhnya atau tidak sama sekali. Jangan tinggalkan aku dalam tanya. Karena aku lelah. Beri aku kepastian: Ijinkan aku memperbaiki kita. Atau ijinkan aku untuk menyerah dan pergi.





(Ini adalah curahan hati tentangmu, yang tidak akan pernah tersampaikan. Aku sedang belajar untuk tidak berdoa-untuk-meminta, tetapi kali ini aku kalah. Aku meminta, ralat, memohon pada Tuhan agar sekali ini saja aku dapat mengetahui apa yang ada di dalam hatimu)


(P.S. Ini sekuel dari Tentang Rasa)


LA.

Surat Cinta

Aku ingin menulis surat cinta
Untukmu
Iya, untukmu
Tapi bagian terbesar yang kurasakan dari mencintaimu
Adalah patah hati, karnamu

Bagaimana bisa aku menuliskan hal-hal indah
Kalau hal terakhir yang kuingat tentang mencintaimu
Adalah air mata yang kembali mengalir
Karena ketidakmampuanku menyampaikan "aku merindukanmu"
Tanpa harus membuatnya menjadi beban
Baik untukku, maupun untukmu
Terutama untukmu

Aku ingin belajar untuk mencintaimu dengan sederhana
Tanpa banyak meminta
Karena kita dua manusia dewasa

Tetapi, apakah ini cinta?
Ketika lebih banyak air mata daripada canda tawa?

Entahlah.
Yang kutahu, aku hanya harus bertahan sedikit lagi


LA.

Hati

Kamu selalu penuh dengan kejutan.
Untuk menerkamu begitu sulit dan membacamu adalah misteri. Ada getir yang selalu ingin kau sembunyikan dalam tiap garis senyummu. Yang kausahakan tertutup dalam sisi cemerlangmu. Tapi engkau terus bersinar. kamu berdiam seperti senja yang membasuh debu luka para pekerja. Melukis langit yang memukau dan menjadikannya tak terjangkau. Menjadi laut dalam yang tak pernah terselam. masihkah kau bersamanya?
Aku ingin menjangkaumu.
(ADA)

Lara Lana

''Kamu mencintai cerita yang kamu buat, dan kebetulan aku disana. Kamu terlalu fokus  pada cinta yang kamu kejar sementara diluar sana kamu bisa bertemu dengan cintamu yang sebenarnya''
Aku mengulang barisan kalimat ini. Satu kali. Dua kali. Hingga aku hafal diluar kepala. Kamu menulis dalam pesan pendek dan tidak menjawab atas apa yang aku tanyakan.
Ralat. Aku tak mengajukan pertanyaan, aku hanya mengungkapkan apa yang selama ini terpendam bertahun-tahun dan ketika itu keluar kamu bilang ini adalah rekaan.
Aku sadar tidak semua harus berpeluk, tidak semuanya harus menggenggam dan kamu ada untuk membuatku belajar, belajar bahwa untuk mencintai adalah sebuah proses dan harus terus dirawat. Senantiasa dipupuk. Seperti kamu yang sampai sejauh ini ada disini. Aku merawat untuk untuk terus bertahan menebus mimpi yang kukejar. Yang kita biasa sebut cita-cita
Sayangku, kau bilang menikah itu tidak perlu dan menikah adalah wujud ketidakyakinan pada hakikat cinta itu sendiri sehingga harus melekat dalam institusi pernikahan. Katamu aku sedang melantur bahwa karena desakan lingkungan aku bilang yang tidak-tidak dan begitu ketimuran. Cita-citaku adalah kamu, dan sejauh ini kupikir kita sejalan
Dan barangkali Tuhan sedang bermain-main pada jalan hidupku. Takdir mungkin berkata itu bukan kamu, tapi nasib mencintaimu adalah mutlak ,
(ADA)

Satu Langkah Terakhir


Satu langkah terakhir untuk sebuah awal baru
Satu langkah terakhir dalam perang yang harus aku menangkan
Bohong kalau kukatakan aku tak gentar
Aku gentar
Gemetar
Takut
Kalut
Rasa campur aduk yang membuatku terjaga semalam suntuk
Mataku menyalang
Pikiran melayang
Debar jantung tak karuan
Kepala berputar hebat
Hal terakhir yang kulakukan untuk mengatasi kepanikanku:
Duduk diam di bawah sinar bulan
ALAS!
Siapa yang mau aku bohongi?
Tubuhku diam, tidak dengan pikiranku
Bulan, kumohon peluk aku malam ini
Buat aku tenang
Awan, kumohon jangan datang malam ini
Aku perlu tahu bintang ada di sana
Aku butuh kawan
Untuk menemaniku terjaga
Terjaga mempersiapkan diri
Untuk satu langkah terakhir yang harus diambil saat mentari menjelang
Semesta, bantu aku
Di satu langkah terakhirku


LA.

Rindu (Bagian II)

Pict: Sarah Sherman Samuel (on Instagram)

Karena sesungguhnya yang paling aku rindukan bukanlah keberadaanmu di sisiku.
Melainkan hal-hal kecil yang biasanya dapat aku bagi denganmu.


LA.

Hanya Lalu

Apakah bahagia, berarti ia harus punya?
Hari ini saya keluar rumah, bukan sesuatu yang spesial. Tidak jauh dan dilakukan pada malam hari. Dan ketika saya keluar saya senang melihat pemandangan entah itu pemandangan malam hari atau siang. Oleh karnanya saya sering berpergian. Bagi saya melihat sudah cukup.
Saya masih ingat meski itu cukup lama, dimana bintang bertabur hingga membuat lamun, sepoi samudera hindia di malam hari yang semilir. Atau melihat bintang di ufuk timur jawa barat, melihat bintang hanya sekadar di planetarium. Semua saya upayakan. Untuk sekedar melihat
Melihat orang lain bahagia, melihat ada hal yg menyenangkan yang bisa dibagi dengan sesama dan merasa bersyukur dengan keterbatasan yang dipunya. Itu mutlak. Mengupayakan kebahagiaan itu juga harus. Karena untuk apa hidup jika tak bahagia? Tapi apakah bahagia harus selalu punya?
Hari ini tidak ada bintang, tidak ada semilir angin yg sejuk. Hari ini kosong. Dan untuk bahagia atau tidak, ini tepat pada porosnya. Ah, bahkan untuk melihat saja saya perlu menunggu..
Tabik.
(ADA)

Once upon a time.


Once upon a time there's a man who came into a girl's life with a bucket of dream. Then he became her first love. And she never love anyone else like him before. The end.

Popular Posts

Frasa. Powered by Blogger.