Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Until You Go




The Mother We Share - Chvrches

Lagu ini mengalun dari alat pemutar musikku dalam seminggu terakhir. Tanpa lagu terputar, nada dan liriknya seperti terpatri dalam kepala. Malam ini entah bagaimana aku berakhir di coffee shop favorit kita dengan earphone terpasang di telinga, memutarkan lagu ini. Dengan sebuah jurnal berwarna kuning di hadapanku. Dengan bayangmu di jendela di hadapanku. Khayalan.


"Buat kamu, aku ini apa sih?"
"Sahabat?"
"Sahabat yang kayak gimana?"
"..."
"Kalau aku bilang, aku sayang kamu?"
"Aku sayang kamu juga. Aku nggak pernah nggak sayang kamu"
"Kalau aku pergi. Kamu gimana?"
"..."


Aku tidak pernah menjawab pertanyaanmu karena aku tidak pernah sekalipun membayangkan kamu akan pergi dari hidupku. Tidak dengan alasan apapun. Tapi, kemudian kamu pergi di suatu malam yang dingin karena aku tidak bisa memberikan alasan yang cukup untuk membuatmu tetap tinggal.



"Never took your side. Never cursed your Name. I keep my lips shut tight. Until you go. We've come as far as we're ever gonna get. Until you realize, that you should go"

Kutuliskan bait pertama lirik lagu itu di dalam jurnalku. Sebagai tanda aku melepaskan bayangmu.



LA.

Aku Kacau

Untitled

"Sekarang aku mulai ngerasa ngasih kunci serep apartemenku ke kamu adalah sesuatu yang salah"
"Ih ngomel, lagi mabok ya?"
"SIAPA JUGA YANG LAGI TIDUR DIBANGUN SECARA BRUTAL TERUS NGGAK NGOMEL? PAKE OTAK DONG."
...
...
"Well, I'm sorry that everytime I step in in your life, it was never the right time. And I never really learn anything, that sometimes you're not okay of me being brutally here and there"
...
...
Aku bangkit dari tidurku, memilih terus memunggungi kamu. Kemudian melanjutkan, "Bukan itu. Aku cuma ngerasa, kadang kamu nggak adil. Setiap kamu butuh aku, kamu selalu bisa nemuin aku bahkan di saat aku nggak mau ditemuin sama siapapun. Tapi nggak kebalikannya, saat aku butuh kamu, kadang aku mesti setengah mati dulu cari kamu"
"Well, you can always call"
"That's the unfair part. Everytime you need me, you can just show up in front of my face. But, when I need you, I have to call you first? To know where you are. Or whether you have a time to talk. It's just unfair"

Aku bersandar jendela di samping tempat tidurku, memeluk bantal, namun kali ini menatap ke arahmu. Lalu, kamu duduk menghampiriku dan duduk di sisiku.

Sunyi sesaat. Mungkin kau sengaja membiarkan emosiku mereda sedikit.

"Well, actually, I came here not because I need you. It's because I couldn't find you anywhere. I kinda worry, you know. So I come to check on you"
...
"Maaf. Seharian aku tidur dan nggak sadar ponselku mati. Maaf aku baru dateng sekarang, sementara seharusnya aku ada di sini empat jam yang lalu, mungkin. Sorry that you broke up with your boyfriend. Aku minta maaf atas banyak hal lainnya ke kamu. Sebagai permintaan maaf, I think a company would do good for you tonight"

Aku masih terdiam dan memeluk bantalku. Sesuatu yang panas meleleh dari mataku. Air mata. Air mata yang mengalir dalam diam sampai kemudian berubah menjadi isak tangis dalam.

Sebuah usapan lembut di kepalaku. Menenangkan.

"Kamu kacau tahu, nggak. Perlu disembuhin, pake cinta" ucapmu sambil terus mengusap lembut kepalaku.

Ucapanmu membuat aku tertawa di antara isak tangis. Brengsek.

Malam ini aku patah hati karena satu hubungan yang harus berakhir. Kupikir aku akan melewati malam ini dengan nelangsa. Sendiri. Tapi ternyata tidak.

Karena kamu selalu tahu dimana menemukanku.

Malam ini aku lega kamu menemukanku. Aku rasa aku butuh sahabatku untuk mengadu dan menangis sampai aku lelah dan terlelap.



LA.

Sepi

Untitled
Pict: Nikoline

Rasa sepi paling absolut bukanlah ketika berada di sebuah konser sendirian. Bukan ketika menonton film di bioskop sendirian. Bukan ketika menikmati secangkir kopi di kafe favorit sendirian. Bukan juga saat makan siang sendirian
Rasa sepi paling absolut justru setelah hari yang begitu panjang dan melelahkan. Aku berbaring di tempat tidurku dan menyadari tidak ada seorangpun di sampingku. Juga tidak seorang temanpun di telepon genggamku yang berusaha menghubungiku

Seorang teman pernah berkata saat perbincangan tengah malam kami,
"Malam tidak selamanya sepi
Tidak juga selamanya gempita
Malam ini bisa saja sepi
Tapi besok pasti (setidaknya) akan sedikit lebih ria"




Aku mengamini itu.


LA.

Popular Posts

Frasa. Powered by Blogger.