Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Hold on to Let Go

Tak berjudul

This long-term relationship// We are at the peak point// The point where we could not go any further// The bubble is about to burst//

I never knew breaking-up can be very confusing// I've been giving all the true reasons// This is tiring// I'm bored// I need some fresh air// I need to breath// Three years is enough, don't you think?// But the why question is still lingering// "Why do you even give up now? After holding on for a long time?"// I've been giving all the true reasons// All the true reasons that you don't want to hear// You only want to hear one thing// I found someone better// So you can point a finger and shout "Cheater"//

You're saying all the very sweet and kind things again// I never trusted your sweet words// I always believe they are just sugar coating the situation// You just trying to win my heart again// Just like the old days//

I would only hold on to let you let me go

Why Do I Keep Hitting Myself with a Hammer?

"Maybe we like the pain. Maybe we're wired that way. Because without it, I don't know, maybe we just wouldn't feel real. What's that saying? Why do I keep hitting myself with a hammer? Because it feels so good when I stop" - Meredith Grey, Grey's Anatomy

Grey's anatomy. Aku suka TV series yang satu ini dan aku nggak pernah nggak nangis nonton ini, setiap episode ada saja yang bikin aku nangis. Dari sekian banyak episode dan quotes, favoritku ya yang satu ini. Why do I keep hitting myself with a hammer? Hmph, aku nggak mau pointing finger ke orang lain, ngomong sama pantulan diri sendiri di cermin rasanya cukup saat menjawab pertanyaan ini.

Aku suka mental torturing.

Mental torturing favoritku: sayang sama kamu.

Kamu itu rasa sakit, efek dari 'mukulin diri sendiri pake palu' tapi toh aku tetap ngelakuin itu, tetep 'mukulin diri sendiri pake palu'. Supaya rasa sakitnya muncul, supaya ngerasain kamu ada. Aku? Masokis? Masokisnya ke hatiku sendiri sih, bukan ke fisik orang lain. Hahaha. Apa? Menyedihkan? Mungkin aja sih. Aku nggak tau sampe kapan aku akan 'mukulin diri sendiri pake palu' untuk ngerasain kamu ada di sampingku, mungkin aku harus mulai cari cara lain. Cara untuk bikin kamu beneran ada di sampingku. Mungkin caranya dengan bilang ke kamu... tentang rasa. Aku akan bilang, suatu hari. Ketika kamu nggak lagi sibuk sama perempuan-perempuan di sekeliling kamu.

Ponselku bergetar.

Tunggu. Itu dari kamu.



LA.

Aku Kacau

Untitled

"Sekarang aku mulai ngerasa ngasih kunci serep apartemenku ke kamu adalah sesuatu yang salah"
"Ih ngomel, lagi mabok ya?"
"SIAPA JUGA YANG LAGI TIDUR DIBANGUN SECARA BRUTAL TERUS NGGAK NGOMEL? PAKE OTAK DONG."
...
...
"Well, I'm sorry that everytime I step in in your life, it was never the right time. And I never really learn anything, that sometimes you're not okay of me being brutally here and there"
...
...
Aku bangkit dari tidurku, memilih terus memunggungi kamu. Kemudian melanjutkan, "Bukan itu. Aku cuma ngerasa, kadang kamu nggak adil. Setiap kamu butuh aku, kamu selalu bisa nemuin aku bahkan di saat aku nggak mau ditemuin sama siapapun. Tapi nggak kebalikannya, saat aku butuh kamu, kadang aku mesti setengah mati dulu cari kamu"
"Well, you can always call"
"That's the unfair part. Everytime you need me, you can just show up in front of my face. But, when I need you, I have to call you first? To know where you are. Or whether you have a time to talk. It's just unfair"

Aku bersandar jendela di samping tempat tidurku, memeluk bantal, namun kali ini menatap ke arahmu. Lalu, kamu duduk menghampiriku dan duduk di sisiku.

Sunyi sesaat. Mungkin kau sengaja membiarkan emosiku mereda sedikit.

"Well, actually, I came here not because I need you. It's because I couldn't find you anywhere. I kinda worry, you know. So I come to check on you"
...
"Maaf. Seharian aku tidur dan nggak sadar ponselku mati. Maaf aku baru dateng sekarang, sementara seharusnya aku ada di sini empat jam yang lalu, mungkin. Sorry that you broke up with your boyfriend. Aku minta maaf atas banyak hal lainnya ke kamu. Sebagai permintaan maaf, I think a company would do good for you tonight"

Aku masih terdiam dan memeluk bantalku. Sesuatu yang panas meleleh dari mataku. Air mata. Air mata yang mengalir dalam diam sampai kemudian berubah menjadi isak tangis dalam.

Sebuah usapan lembut di kepalaku. Menenangkan.

"Kamu kacau tahu, nggak. Perlu disembuhin, pake cinta" ucapmu sambil terus mengusap lembut kepalaku.

Ucapanmu membuat aku tertawa di antara isak tangis. Brengsek.

Malam ini aku patah hati karena satu hubungan yang harus berakhir. Kupikir aku akan melewati malam ini dengan nelangsa. Sendiri. Tapi ternyata tidak.

Karena kamu selalu tahu dimana menemukanku.

Malam ini aku lega kamu menemukanku. Aku rasa aku butuh sahabatku untuk mengadu dan menangis sampai aku lelah dan terlelap.



LA.

Kamu Kacau

Reading at the park

Minggu siang yang tenang. Berbaring di rerumputan sebuah taman kota. Sinar matahari musim panas begitu menyilaukan.

Aku berbaring sambil menutup mata saat tiba-tiba sebuah tas melayang tepat di samping kepalaku diikuti sebuah tubuh yang jatuh kasual, menjadikan tasnya bantal. Dan sebuah repetan panjang tentang pekerjaan.

"Deadline dua hari lagi, 50% beres juga belum. Di awal katanya iya bisa, udah gini aja. Ujungnya aku lagi yang ngerjain semuanya. Dari awal aja mendingan nggak usah sok hire orang lain, bocah pula"
"Kamu mandi nggak sih?"
"Bangun tidur, cek email, isinya semua orang nguber desain, yang harusnya tanggung jawab si anak baru. Telepon tidak terjawab 20, pesan baru 30. Gila ya! Tanggung jawab siapa, yang diuber-uber siapa. Dipikir kerjaanku cuma nyelesain deadline yang nggak bisa diselesein sama orang lain apa?
"Udah makan?"
Kamu menghela napas sebelum menjawab, "Nggak ada makanan"
"Kan bisa beli di resto"
"Makanan take away nggak enak"
"Ya dining aja"
"Garing makan sendiri"
Aku menatap kesal kepala pria di sampingku
"Tagihan listrik udah dibayar?"
"Nggak tau surat tagihannya ilang"
"Ya ke kantor listrik aja langsung. Terus kalo aliran listrik kamu diputus gimana?"
"Ya tinggal ke rumah kamu"
"Kamu pikir rumahku tempat penampungan orang kacau kayak kamu?"
Kamu memilih memejamkan mata.
"Hei, denger nggak??? KAMU KACAU TAU, NGGAK! Perlu disembuhin, pake cinta"
"Hahahahahaha. Alas! Jijik"
"Kok jijik sih? Itu romantis lagi"
"Keluarnya dari mulut kamu, terdengar jijik"
"Yang denger kuping kamu, makanya terdengar jijik"
"Buku apa sih yang lagi dibaca? Nggak usah dibaca lagi lah. Omongan kamu jadi menggelikan"
"Kamu ngapain di sini?"
"Nyari kamu"
"Darimana kamu tahu aku di sini?"
"Yaaa tahu aja"

Kemudian semua percakapan berhenti. Kamu memejamkan mata. Aku diam-diam mengecek ponselku. Benar kok, ponselku kutinggalkan di rumah.

Ah selalu saja kamu tahu dimana menemukanku.

Perusak ketenangan hari.


LA.

Hai

Shinjuku Station Peak Hour

Kereta Anda telah memasuki stasiun akhir. Sekali lagi, kereta Anda telah memasuki stasiun akhir. Terima kasih telah menggunakan jasa angkutan kereta api.

Suara masinis dari interkom di sudut gerbong.

Aku berjalan melewati kursi-kursi yang baru saja ditinggalkan penumpangnya. Keluar kereta dan mendapati stasiun begitu besar dan dipadati manusia. Musim liburan. Kuterobos kerumunan, tak sekali-dua kali tertubruk dan menubruk orang lain. Sampai tiba-tiba di tengah kerumunan yang hampir tak bergerak sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku hampir berteriak marah sebelum mendapati ternyata kamu yang ada di sana. Di antara kerumunan. Tersenyum.

"Hai" seru kita bersamaan.

Ah selalu saja kamu berhasil menemukanku.


LA.

Firasat

Talking Heads

"Kamu harus banget pergi ya?"
"Iya, dia butuh aku di sana"
"Iya, dia, mantan kamu. Perlu banget sampe dibela-belain? Aku gimana?"
"Halah biasanya juga kamu ngapa-ngapain sendiri. Lagian, kan, ada si cowok yang friendzone-in kamu itu"
"Brengsek. Aku maunya kamu"
"..."
"Bisa nggak, sih, sekaliiiii, sekali aja, paling nggak, kamu pura-pura kalo kamu peduli? Pernah nggak sedikit aja terlintas di kepala kamu kemungkinan aku sayang kamu? Aku maunya kamu? Aku nggak mau kamu usaha buat nyambung kembali benang yang udah putus?"
"Kamu sayang aku? Cowok yang friendzone-in kamu itu apa kabarnya di hati kamu?"
"Brengsek ah"
"Kalo kamu sayang aku, kenapa nggak pernah bilang?"
"Kamu pikir segampang itu buat bilang? Sementara kamu udah sebegitunya tau aku"
"Giliran ke cowok itu kamu bisa jujur, kenapa ke aku nggak?"
"Beda! Entah, ya, aku ngerasa kalo aku bilang, kamu bakal ninggalin aku. Dan itu akan lebih nyakitin, sih"
"Kata siapa?"
"Firasatku. Firasatku nggak pernah salah"
"Bullshit. Gimana kamu bisa tahu kalo kamu belum nyoba? Kamu, kan, juga sebegitunya tau aku"
"Oke! Aku cuma akan bilang sekali dan kasih aku jawaban cepat! If I tell you that I love you, would you stay?"
"..."
"See.. Firasatku bener. Kamu akan ninggalin aku"

Lalu aku meninggalkan kamu lebih dulu sebelum kamu yang meninggalkan aku di bandara dengan udara malam yang menusuk itu.


(Seri "Kau Tahu Dimana Menemukanku")


LA.

Sampai Kita Dewasa dan Bijaksana untuk Menyadari

Bram Saladdin of The Experience Brothers
Pict Source: Flickr

Selamat malam,
Untukmu yang paling sering aku rindukan
Dan yang diam-diam kukirimi doa sebelum aku tertidur
Suatu hari kamu akan tahu
Bukan sekarang
Suatu hari
Ketika kamu sedikit lebih bijaksana
Ketika kamu mendekat pada Tuhan
Kamu akan tahu
Karena selama ini diam-diam aku mengadu pada Tuhan
Aku berdoa pada Tuhan
Untuk memberimu kebahagiaan
Untuk memberimu seseorang yang dapat mendampingimu menjadi manusia yang lebih baik
Untuk memberimu seseorang yang dapat memenangi monster dan ego dalam dirimu
Aku belum mampu untuk memberitahumu
Aku belum cukup dewasa dan bijaksana
Aku masih terlalu egois untuk dapat memenangi monster dan egomu
Aku masih belum cukup baik untuk mendampingimu
Sampai saat itu tiba,
Semoga kamu senantiasa berbahagia
Selamat malam dan selamat tidur


LA.

Skenario Semesta

bechaela

Dalam semestanya, dia membenci kakaknya yang selalu dan selalu terbebas dari hukuman orang tuanya
Dalam semestanya, dia muak pada sikap diam sang ayah. Atas semua hal
Dalam semestanya, dia dendam pada sang ibu karena menyebutnya tidak tahu terima kasih
Dalam semestanya, dia selalu mencari alasan untuk berada di luar rumah setiap harinya
Dalam semestanya, dia kesepian tapi terlalu malu untuk merengek pada teman-temannya, minta ditemani
Dalam semestanya, dia diam-diam berharap suatu saat akan menemukan seseorang yang mampu memenangkan ego dan monster di dalam dirinya
Tapi
Dalam semestanya, “Semua manusia diciptakan berpasangan” mulai terasa seperti omong kosong

Lalu dia berjalan meninggalkan kafe, berlalu begitu saja dari tatapan sepasang mata yang setiap menit tertuju padanya, yang tidak pernah dia sadari. Karena, dalam semestanya, semua hanya tentang dia.



LA.

Saharsa

joy unlimited

Bibir yang selalu melengkungkan senyum
Mata yang seringkali mengerling jenaka
Tawa renyah, menggelegar, dan menular
Seperti virus

Saharsa. Satu bentuk kata yang berarti kebahagiaan
Saharsa. Sebuah kata yang membentuk satu sosok
Kamu

Yang ada dalam diri setiap manusia


LA.

Summer Fling

Summer
Pict: Cuba Gallery


Summer fling.
There are two things about summer fling;
First, it starts and ends during the summer
Second, it's just a fling


LA.

Surat Untuk Sahabat

Dear L and R,

Aku sampai pada satu titik dimana aku takut jatuh cinta,
Untuk memulai suatu hubungan yang baru dan tidak dibumbui ketakutan masa lalu
Kamu tahu, aku ini orangnya tidak mudah
Dan rasa takut itu sering menyergap tiba-tiba sama seperti kehadiran sosok baru dalam hidupku

Iya, aku takut jatuh cinta sampai setengah mati
Jatuh cinta yang membuat jantung berdetak tidak karuan sampai mau copot
Jatuh yang tidak sakit tapi memunculkan banyak kupu-kupu di lambung
Aku takut jatuh, terbang bebas dan lupa daratan
Setakut itu sampai terasa akan mati betulan

Iya L, iya R.. benar
Saat ini kurasa aku menemukan seseorang yang membuatku kembali seimbang
Seseorang yang dapat kuceritakan tentang apapun dan kapanpun
Yang selalu muncul dipagi hari dan selalu menjadi pengantar tidur di malam hari
Seseorang yang membagi pengalamannya, menghabiskan waktunya untuk menjadi peta yang sederhana tapi sangat menarik untuk kuajak berpetualang
Aku menemukannya, sekaligus takut karenanya..
Aku takut hanya sebelah, dan hati ini kembali terbelah

Sudah dulu ya, nanti kapan-kapan aku lanjutkan ceritanya
Yang pasti sekarang ini bantu aku kembali waras
Karena setengah mati berarti setengah hidup
Dan aku takut ini makin terasa jauh.

Tolong aku..
Ini bukan asmara..

Mencari Harapan

Matanya menatap tajam ke lawannya. Bola matanya bergerak-gerak menelanjangi, seolah mencari sedikit harapan dan kepastian untuk masa depannya. Tapi yang tampak dari lawannya hanyalah alasan-alasan manis semu yang terasa jemu. Sebuah usaha supaya dia tetap bertahan di sisinya. Tapi dia sudah muak, sudah terlalu lama ia terus disirami dengan janji manis yang pada akhirnya hanya menjadi omong kosong. Dia tidak mendapatkan yang dia cari dari lawannya, makanya ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan belasan poster kampanye partai politik yang terpaku di batang pohon rindang di pinggir jalan itu.




Catatan: Tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak akan memilih mereka yang posternya terpasang di pohon-pohon rindang. Take our trees out from your political shits, please! #sikap #belajartidakapatis


LA.

Warna Memori

Aku cek jam dipergelangan tanganku. Pukul 06.15, sudah saatnya berbuka puasa. Aku terlambat di tempat berkumpul. Bukan perkumpulan spesial sebenarnya, hanya sebuah perkumpulan dengan teman-teman lama. Termasuk dengan gadis itu, gadis yang pernah kupinta hatinya. Salah, gadis yang pernah kuberikan hatiku padanya. Apakah Ia akan datang?

Sesampainya di sana mudah saja menemukan gerombolan itu dan menemukan dia, yang memilih duduk di meja kecil tengah, di luar gerombolan tertentu, dia yang seketika menunduk saat melihatku datang. Aku menelan senyum geli melihat tingkahnya. Bodoh, lain kali setidaknya berusahalah untuk tidak terlalu terlihat jika melakukan itu lagi ya.

Aku ingin duduk di sampingnya, di hadapannya, di dekatnya untuk menanyakan kabar hati yang pernah kuberikan. Saat itu ia menolak pemberianku dengan alasan pendidikan. Bodoh dan klise. Tapi, itu yang kukagumi darinya. Ia dan ambisinya pada pendidikan.
Aku ingin duduk di sampingnya, di hadapannya, di dekatnya, tapi aku sadar diri. Saat ini aku sedang memiliki hati seseorang.

Jadi, aku memilih bergabung dengan gerombolan lelaki, berjarak darinya.

Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya dari ujung mataku. Aku menyadari sesuatu. Dia dengan jilbab merah marunnya dan aku dengan kemeja merah marunku. Aku punya warna untuk memoriku tentangnya kali ini: merah marun.


Counter part kisah Merah Marun.


LA.

Catatan Desember

Risiko. Dalam hidup ini tidak ada tempat yang aman ataupun aktivitas yang bebas dari risiko. Semua hal mengandung konsekuensi dan setiap orang pasti pernah mengambil satu resiko besar dalam hidupnya. Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga Mongol. Seorang Nick Jokovic rela beratus-ratus kali jatuh untuk mencoba berdiri dari atas tubuhnya yang tanpa tangan dan kaki. Dan Lori, mendedikasikan lebih dari tiga tahun hidupnya menembus 7 atap langit dunia yang berbahaya tanpa mendapat restu dari ibunda. Semua kepatutan harapan, impian atau keinginan tentulah ada yg dikorbankan.

Termasuk tentang perasaan saya, mengambil risiko untuk berada ditempat seaman mungkin untuk saya agar tidak tersentuh dan merasa aman. Bisa jadi saya tidak seberani mereka dalam menghitung resiko apa dan mana yang kira-kira baik untuk saya. Meski dengan itu saya memang tidak kemana-mana. Saya takut, saya tidak mau terluka. Meski saya juga tau bahwa dengan diam tidak menjamin tidak terluka. Setidaknya selama hampir enam tahun dalam kehidupan saya..

Desember, adalah titik balik perubahan dalam hidup saya. Nampaknya kunci pintu dihati haruslah digedor supaya bisa angkat bicara. Dan rumah sakit menjadi lokasi penakaran yang pantas bahwa usia manusia tidak selamanya panjang. Kamu disini, datang, kembali.. membawa bingkisan senyum yang bisa menghapus luluh seluruh energi yang kupikir habis mengawasi ibu di hari ini. Tanpa diminta, tanpa diingatkan.

Hmm.. saya pikir saya juga sudah lelah pada permainan ini.. pada scene yang telah kamu buat, pada drama yang akhirnya saya ciptakan. Kali ini saya pikir harus mengambil risiko. Risiko yang seharusnya dari dulu saya ambil, tanpa mengabaikan nurani. Saya sudah terlalu jatuh sama kamu. Dan kamu terlalu naif jika menganggap ini kebetulan, bahwa saya jatuh cinta pada seorang yang hanya bisa kulihat dan kusenyumi dari dekat tapi tidak hatinya. Terserah kamu peduli atau tidak, karna pada akhirnya saya memang sudah kehilangan kamu dari awal dan akhir.

Sekali lagi kita bertemu, diawal desember yang hujan, di antara kamar-kamar bisu dan bau alkohol karbol rumah sakit. Dan kali ini saya tidak menunduk, tidak cuma tersenyum, tidak hanya menatap dan mengangguk.

'saya. pernah. jatuh. cinta. sama. Mas' saya telah jelas mengatakannya, saya lega mengatakannya, dan seketika saya merasa mulas. Hahaha bukan karna momennya memang tidak pas, tapi karena saya berbohong. Saya masih cinta..

Dia diam. Saya diam. Lama.. membuat saya sangat ingin kembali menunduk.

***

Kami berpisah di lorong panjang tempat lift berada. Mengantarnya sampai ke pintu dan entah kapan akan kembali bertemu. Tidak ada yang berbeda. Karena memang tidak ada pinta.

Di ujung lorong di depan lift ia berdiri membelakangiku, kemudian berbalik memandangku. Memberikan senyuman dan mengucapkan terimakasih. Untuk pertama dia mengambil tangan ini.

'Sampai bertemu kembali, terimakasih dan jaga diri jangan sampai sakit' ia menepuk kepala dua kali, sebelum lift membuka dan sebelum kujawab terimakasih.

Terimakasih, iya dan sampai jumpa. Tiga kata yang selalu kukunci untuk dijawab. Yang kupikir ini bagian dari risiko yg kutelan dari hilangnya perhatian. Dan perubahan drastis yang reaktif

Dalam hal ini, bisa jadi cinta saya bertepuk. Tapi cinta ini penah melakukan sesuatu. Dan tidak diam

Dia cukup mencari tempat, dimana cinta memang telah ditunggu dan diterima.

(ADA)

Perkara Hati.

Banyak yang bilang bahwa cinta itu bukan sekedar meminta kepemilikan hati orang tersebut. Bukan perkara menyatukan ego melainkan sebuah proses tak berkesudahan ketika hasrat cinta yg membara di awal dan harus terus terjaga panasnya. Cinta juga bukan sekedar kewajiban melapor sambil menceritakan sedu sedan dan bahagia dalam satu hari itu. Bukan pula seperti cerita ftv atau kisah-kisah yg ditulis pablo neruda dan kahlil gibran. Tidak pernah selamanya manis, puitis dan penuh dengan gombalan manja.

Ah! Tahu apa aku menyoal cinta. Aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan rasanya sangat dalam. Sementara untuk mengambil contoh mungkin harus belajar banyak dari yang mengalami banyak cinta, meski hanya mampir di tepi.

Cinta itu muncul dari hal-hal sederhana. Dari kebiasaan yang membuat nyaman. Cinta itu selalu mengupayakan keberadaan, selalu hadir. Cinta juga mengupayakan kebahagiaan, mengesampingkan lelah yang dipunya. Dan berbagi. Berbagi untuk saling memberi dan memenuhi.

Kira-kira begitu.. pastinya aku tidak tahu.

Yang kutahu hari ini aku bertemu membuat janji dengannya. Tidak berdua. Tapi aku dengan orang tuaku dan dia dengan orang tuanya. Untuk bersama membantu.  Sebelum fajar mengintip aku sudah di muka halaman rumahnya. Mengambil pak-pak kardus buku yang entah berapa banyak isi buku didalamnya. Semuanya dia bawa tanpa sisa. Dia pindahkan untuk rumah dia yang baru.

Aku masih ingat ketika peluh jatuh dari kening kepalanya. Mengucur deras dari kulitnya yang halus dan mulai ditumbuhi keriput halus. Aku penasaran sudah berapa banyak buku yang ia baca. Penasaran bagaimana ia selalu mencari relevansi teori dari pengalaman yang ia punya. Aku tahu dalam hal ini aku hanyalah adik kecilnya, yang bisa membantunya mendesain rumah mungilnya untuk disulap sebagian menjadi ruang perpustakaan. Iya, aku penasaran.

Siang itu, sambil merapikan buku yang mulai disusun, kubiarkan pembicaraan berkembang dari hal satu ke hal yang lain. Caranya menatap masih sama, caranya bercerita juga masih sama. Dan tanganku berhenti pada buku tersampul yang tertambat di mataku. "Ini buku pernikahan, belum di baca?" Ujarku penasaran. Ia menjawab bahwa itu akan menjadi hadiah. Untuk belajar membina rumah tangga

Ia bangkit berdiri, berjalan beberapa langkah yang membawanya pada satu buku bersampul. "Ini juga hadiah buat kamu. Biografi. Bagus isinya" aku diam tidak bereaksi apa. Aku tidak meminta buku. Aku hanya ingin ceritanya. "Mas tahun depan menikah dek. Doain aja ya lancar semuanya". Buku yang ditanganku mendadak jatuh, aku pukul mundur mengambilnya dan mengalihkan pandangan. Ini sudah kuduga, ini yang sudah dipersiapkan, ini jawaban dari doa. Atas nama kepatutan aku bangkit, mengambil buku dan menyeimbangkan senyum dengan sederet gigi. "Selamat ya" hanya itu, hanya itu yang bisa diucapkan.

Tidak. Ini tidak sesakit yang kubayangkan.

Aku terdiam sejenak di sudut rak kayu yang masih baru bau cat. Disudut ini nanti dihuni oleh mereka pasangan baru. Aku beruntung dapat berperan disini, menempelkan karyaku yang dapat diingat setidaknya sampai ia memutuskan untuk mendekor ulang. Akupun sudah cukup mengambil banyak dari sini. Belajar untuk menyalurkan ilmu keikhlasan, keseimbangan, kebahagiaan dan rasa rindu yang menggebu menjadi satu keutuhan. Aku belajar menerima, dan mencintai dengan baik. oke, dua kalimat terakhir tidak sepenuhnya benar!

Setidaknya aku masih punya daya.

Daya untuk berupaya tidak mengabulkan apa yang diminta hati. Daya untuk tahu diri. Bahwasanya yang fana adalah ketidakberdayaan untuk bangkit.

Danke banyak voor dorang. Tete manis sayang dorang senantiasa.. beta seng akan lupa dong pung sayang yang lebih dari cukup.

(ADA)

Secangkir Kopi, Sebatang Rokok, dan Sebait Kisah

Coffee Shop (II)

Hal paling menyakitkan dapat dilakukan oleh orang yang paling kau sayangi. Semua orang menyetujui pernyataan tersebut. Termasuk aku. Terutama aku.

Hari ini aku berdiri di depan sebuah coffee shop. Aku tahu kalian akan bertemu di sini sore ini. Aku berada di sini dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah kita. Untuk menuntaskan luka yang sudah kita buat pada satu sama lain.

Aku melangkah masuk. Kupesan secangkir espresso. Aku membutuhkan sesuatu yang pahit, yang bagaimanapun tidak akan lebih pahit dari yang akan kita hadapi setelah ini.

Aku melihatnya duduk membelakangi arah kedatanganku. Kusentuh pundaknya seraya mengambil duduk di hadapannya. Dia terlihat kaget karena aku tidak seharusnya berada di sini. Aku berusaha setenang mungkin dan membiarkan kesunyian menyelimuti kami. Satu menit. Lima menit. Delapan menit. Tigabelas menit. Barista datang membawakan espresso-ku.

Kubaui aroma yang merebak. Tidak ada yang lebih menyegarkan dari aroma kopi panas. Untuk kali ini, aromanya menyegarkan tetapi tidak menenangkan sama sekali.

Kutatap dia yang di hadapanku duduk dengan canggung, dengan bahu terlalu tegang. Kamu mengapa belum datang juga? Karena itu kamu. Ya, aku sudah terlampau mengenalmu. Kuteguk espresso sedikit. Pahitnya menusuk lidah.

"Apa kabar?" tanyaku. Entah kepadanya atau lebih kepada diriku sendiri.

Dia tidak menjawab, masih menunduk memandangi ibu jarinya yang saling beradu. Juga masih dengan bahu yang terlalu tegang. Dia yang biasanya tidak pernah berhenti bicara saat kami bersama.

"Sudah lama, ya, sejak terakhir kali kita duduk berhadapan menikmati secangkir espresso untukku dan segelas mocca frape untukmu, seperti sekarang ini. Aku sempat merindukanmu. Merindukan berbagi kisah denganmu"

Hening. Aku menolak menatapnya, aku memilih menatap refleksi diriku di atas pekatnya espresso.

"Tak adakah kisah yang ingin kau bagi?"

Hening.

"Mulai hujan. Artinya dia akan lebih terlambat lagi"

Hening.

Kutatap butiran air hujan yang mengalir perlahan di jendela.

Kuhembuskan napas diam-diam.

"Kenapa kalian memilih untuk menyiksa diri? Kenapa tidak katakan saja yang sebenarnya? Aku menunggu, sampai kapan kalian akan bertahan. Tapi ternyata aku yang tidak mampu bertahan.
Kalau kalian jujur, tidak ada yang harus terluka dalam. Tidak perlu berlama-lama menyiksa diri. Tidak perlu bersembunyi-sembunyi. Kalian cukup jujur, aku akan merelakan. Bukan karena aku tidak menyayanginya lagi, tetapi karena akupun tak kuasa mempertahankan seseorang yang tidak ingin dipertahankan. Di lain sisi, karena dia memilihmu. Aku akan rela. Karena yang ia pilih untuk menggantikanku adalah kamu.
Aku mengenalmu dengan baik. Kau gadis yang baik. Dia akan menjadi sosok yang lebih baik jika bersamamu. Dan aku juga akan lebih lega melepasnya untuk bersamamu. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan"

Kubakar sebatang rokok dan menghisapnya perlahan tanpa sedikitpun menatapnya. Aku masih menatap kosong butiran air hujan di jendela kafe.

Tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Kuharap dia mengetahui, ini bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan. Tapi, entahlah akupun ragu air mata apa ini.

Tanpa kata dia menyergap kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Genggaman erat yang sudah sangat kuhapal. Genggaman yang selalu kuartikan sebagai caranya untuk menenangkanku.

Kami bergeming. Air mataku tak terbendung, mengalir di kedua pipiku.

Sebuah suara yang juga sudah kuhapal memanggil namaku dengan nada terkejut. Kuhapus air mataku dan menoleh. Kamu di sana. Berdiri mematung, jarak satu meter dari meja kami.

Aku memandangmu sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menghampirimu.

"Mengapa tidak kau katakan saja sejak awal? Sehingga tidak ada yang perlu terluka terlalu lama. Karena aku akan merelakanmu. Kita dua manusia dewasa, kita pasti mampu menyelesaikannya dengan terbuka tanpa amarah"

Kau menatapku dengan penuh rasa bersalah. Aku benci ditatap seperti itu.

Kuusap butiran air hujan di rambutmu. Ada perasaan yang menyeruak kuat. Aku sangat menyukai mengusap rambutmu, memainkan jemariku di antara helai rambutmu.

Kukuatkan diriku untuk memelukmu, pelukan terakhir.

"Terima kasih untuk semuanya. Aku titip sahabatku, ya. Aku yakin kalian akan berbahagia bersama," bisikku di telingamu.

Aku tatap matamu sedalam mungkin, tatapan terakhir.

"Kau tahu aku akan selalu menyayangimu," ucapku seraya mengecup lembut pipimu, kecupan terakhir.

"Sampai jumpa," ucapku seraya melepaskan genggamanku.

Dan berjalan meninggalkan kafe. Meninggalkan espresso yang masih tersisa seperempat dan rokok yang masih menyala setengah. Meninggalkan kalian berdua.

Semoga kita berjumpa lagi dalam keadaan yang lebih baik.


LA.

Rasa x Akal

couple

"Sadarkah kamu, kita masih punya satu urusan yang belum terselesaikan?" tanyaku dalam hati.

"Kamu. Kamulah yang punya urusan yang belum terselesaikan. Bukankah kesepakatan sudah dibuat bersama?" Jawab sebuah suara. Bukan suaramu, melainkan suara akal sehatku.


LA.

Elegi


Aku duduk di sebuah bangku di pinggir jalan, di depan sebuah kafe. Seorang diri. Dua buah tiket konser ada di tanganku. Kita sepakat akan bertemu di kafe ini, lalu bersama-sama menuju lokasi konser. Aku gila atau terlalu bersemangat. Entahlah. Ini dua jam lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Kuputuskan masuk ke kafe untuk secangkir macchiato dan sepotong pai apel. Kita pernah sepakat pai apel di kafe ini adalah yang terenak di penjuru kota. Pai yang hangat berpadu dengan es krim vanilla yang lembut. Hangat dan dinginnya berpadu sempurna di lidah.

Satu jam lima belas menit lewat sudah. Cangkirku sudah kosong. Pai apel-ku pun sudah meluncur seluruhnya ke mulut. 45 menit menuju waktu pertemuan kita. Jantungku berdebar. Tapi, untuk apa? Seingatku, kau tidak pernah tepat waktu. Setiap pertemuan selalu sama.

Dari kejauhan aku melihatmu setengah berlari menghampiriku. Dengan napas tersengal kau berkata, “Maaf membuatmu menunggu. Macet”.

Selalu seperti itu. Selalu ucapan yang sama. Dan aku selalu memakluminya, dengan senyum dan tanpa kata.

Sudah saatnya bertemu denganmu. Dari dalam kafe aku berpindah ke bangku di pinggir jalan. Kukeluarkan sebuah buku guna membunuh waktu. Kutengok sekali lagi arlojiku. Lalu, kuedarkan pandanganku ke kanan dan kiri.

Dari kejauhan aku melihatmu setengah berlari menghampiriku. Dengan napas tersengal kau berkata, “Maaf membuatmu menunggu. Macet”.

“Selalu alasan yang sama”

Kau memberikan ekspresi menyesal, memohon maaf.

“Oh, sudahlah. Kita, kan, bukan baru mengenal tadi pagi”.

Kita berjalan bersisian menuju lokasi konser di ujung blok. Kita mengantri sambil berbincang tentang hari ini. Tentang betapa menyebalkannya editorku dan tentang bahagianya kau bertemu dengan teman sekolahmu di tempat yang tidak terduga.

Sekarang kita berada di area panggung. Aku memaksa untuk bergerak maju hingga sedekat mungkin dengan panggung. Kau memimpin jalan kita. Aku perpegangan pada sikumu agar tidak terpisah. Jantungku kembali berdebar. Tapi, kali ini aku tahu kenapa.

Kita membicarakan tentang tata panggung, tata cahaya dan tata suara bagai dua orang ahli musik. Pembicaraan kita serius sebelum akhirnya tawa di antara kita pecah, menyadari betapa sombongnya nada bicara kita. Akhirnya band yang kita nantikan, band favorit kita, mulai menghentak panggung. Kita menyanyi, menari, melompat, dan meneriakkan “woohoo” berulang kali. Terlalu bersemangat. Bagaimana tidak, malam ini, konser ini, band ini adalah hal yang selalu kita impikan bersama.

Konser berakhir. Kau menggenggam tanganku, meninggalkan area konser. Jantungku berdebar tidak karuan. Kali ini, aku merasa ini salah. Debar jantung ini tidak seharusnya ada. Kita berjalan menuju mobilmu. Kau memarkirnya dua blok dari kafe. Kau selalu berkata, parkiran di area konser tidak masuk akal, sehingga kau lebih memilih untuk memarkir mobilmu jauh dari lokasi. Kita berjalan sambil bernyanyi-nyanyi kecil lagu-lagu yang dibawakan. Masih terlalu bersemangat tentang konser tadi.

Sampai di mobil, kau membukakan pintu. Lalu, melajukan mobil menuju rumahku. Kita sampai di halaman rumahku, aku belum berniat meninggalkan mobil dan kau belum ingin membiarkanku meninggalkan mobil. Kita masih berbincang. Tentang konser. Kutengok jam di dasbor mobilmu. Sudah jauh melewati tengah malam. Sudah saatnya aku masuk. Kita berpelukan. Sebuah pelukan kasual, seperti biasa. Pelukan kasual yang diikuti “terima kasih”, “selamat malam”, “hati-hati di jalan”, dan “sampai jumpa besok”.

Mobilmu menjauh.

Jantungku masih berdebar.
Debar yang seharusnya tidak boleh kurasakan.

“Aaaaaaaaaaakkkkkk”. Sebuah teriakan membuyarkan lamunanku. Seorang wanita berteriak bahagia, sepertinya mendapatkan kejutan dari kekasihnya. Kutengok arlojiku. 30 menit lebih dari waktu janjian. Ini tidak biasa. Kurogoh tas, mengambil ponsel. Sebuah pesan singkat baru. Darimu. Satu jam yang lalu.

              Aku terjebak macet, ada kecelakaan. Masih terlalu jauh dari lokasi konser.
              Sepertinya aku tidak akan sampai sebelum konser berakhir.
              Jangan menungguku. Pergilah sendiri. Maafkan aku.
              Kita berjumpa besok ya.

Aku menghela nafas berat, bersandar pada punggung kursi. Kecewa. Kumasukkan buku dan ponsel ke dalam tas. Kuhampiri wanita yang mendapat kejutan dari kekasihnya tadi. Kuberikan tiket konser kita pada mereka. Secara cuma-cuma. Kuambil ponselku sekali lagi.

              Maaf aku lupa mengabarimu. Aku masih di kantor.
              Berkutat dengan artikel dan deadline.
              Aku tidak akan datang juga sepertinya.
              Sampai jumpa besok.

Kutinggalkan tempat ini. Dan menghapus segala khayalan tentang malam yang tidak pernah kita miliki. Selamat malam. Hati-hati di jalan, Hati.


P.S. Fiksi ini disadur dari sebuah cerita cinta di Le Love.


LA.

Popular Posts

Frasa. Powered by Blogger.