Hold on to Let Go
You're saying all the very sweet and kind things again// I never trusted your sweet words// I always believe they are just sugar coating the situation// You just trying to win my heart again// Just like the old days//
"Maybe we like the pain. Maybe we're wired that way. Because without it, I don't know, maybe we just wouldn't feel real. What's that saying? Why do I keep hitting myself with a hammer? Because it feels so good when I stop" - Meredith Grey, Grey's Anatomy





Dear L and R,
Aku sampai pada satu titik dimana aku takut jatuh cinta,
Untuk memulai suatu hubungan yang baru dan tidak dibumbui ketakutan masa lalu
Kamu tahu, aku ini orangnya tidak mudah
Dan rasa takut itu sering menyergap tiba-tiba sama seperti kehadiran sosok baru dalam hidupku
Iya, aku takut jatuh cinta sampai setengah mati
Jatuh cinta yang membuat jantung berdetak tidak karuan sampai mau copot
Jatuh yang tidak sakit tapi memunculkan banyak kupu-kupu di lambung
Aku takut jatuh, terbang bebas dan lupa daratan
Setakut itu sampai terasa akan mati betulan
Iya L, iya R.. benar
Saat ini kurasa aku menemukan seseorang yang membuatku kembali seimbang
Seseorang yang dapat kuceritakan tentang apapun dan kapanpun
Yang selalu muncul dipagi hari dan selalu menjadi pengantar tidur di malam hari
Seseorang yang membagi pengalamannya, menghabiskan waktunya untuk menjadi peta yang sederhana tapi sangat menarik untuk kuajak berpetualang
Aku menemukannya, sekaligus takut karenanya..
Aku takut hanya sebelah, dan hati ini kembali terbelah
Sudah dulu ya, nanti kapan-kapan aku lanjutkan ceritanya
Yang pasti sekarang ini bantu aku kembali waras
Karena setengah mati berarti setengah hidup
Dan aku takut ini makin terasa jauh.
Tolong aku..
Ini bukan asmara..
Risiko. Dalam hidup ini tidak ada tempat yang aman ataupun aktivitas yang bebas dari risiko. Semua hal mengandung konsekuensi dan setiap orang pasti pernah mengambil satu resiko besar dalam hidupnya. Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga Mongol. Seorang Nick Jokovic rela beratus-ratus kali jatuh untuk mencoba berdiri dari atas tubuhnya yang tanpa tangan dan kaki. Dan Lori, mendedikasikan lebih dari tiga tahun hidupnya menembus 7 atap langit dunia yang berbahaya tanpa mendapat restu dari ibunda. Semua kepatutan harapan, impian atau keinginan tentulah ada yg dikorbankan.
Termasuk tentang perasaan saya, mengambil risiko untuk berada ditempat seaman mungkin untuk saya agar tidak tersentuh dan merasa aman. Bisa jadi saya tidak seberani mereka dalam menghitung resiko apa dan mana yang kira-kira baik untuk saya. Meski dengan itu saya memang tidak kemana-mana. Saya takut, saya tidak mau terluka. Meski saya juga tau bahwa dengan diam tidak menjamin tidak terluka. Setidaknya selama hampir enam tahun dalam kehidupan saya..
Desember, adalah titik balik perubahan dalam hidup saya. Nampaknya kunci pintu dihati haruslah digedor supaya bisa angkat bicara. Dan rumah sakit menjadi lokasi penakaran yang pantas bahwa usia manusia tidak selamanya panjang. Kamu disini, datang, kembali.. membawa bingkisan senyum yang bisa menghapus luluh seluruh energi yang kupikir habis mengawasi ibu di hari ini. Tanpa diminta, tanpa diingatkan.
Hmm.. saya pikir saya juga sudah lelah pada permainan ini.. pada scene yang telah kamu buat, pada drama yang akhirnya saya ciptakan. Kali ini saya pikir harus mengambil risiko. Risiko yang seharusnya dari dulu saya ambil, tanpa mengabaikan nurani. Saya sudah terlalu jatuh sama kamu. Dan kamu terlalu naif jika menganggap ini kebetulan, bahwa saya jatuh cinta pada seorang yang hanya bisa kulihat dan kusenyumi dari dekat tapi tidak hatinya. Terserah kamu peduli atau tidak, karna pada akhirnya saya memang sudah kehilangan kamu dari awal dan akhir.
Sekali lagi kita bertemu, diawal desember yang hujan, di antara kamar-kamar bisu dan bau alkohol karbol rumah sakit. Dan kali ini saya tidak menunduk, tidak cuma tersenyum, tidak hanya menatap dan mengangguk.
'saya. pernah. jatuh. cinta. sama. Mas' saya telah jelas mengatakannya, saya lega mengatakannya, dan seketika saya merasa mulas. Hahaha bukan karna momennya memang tidak pas, tapi karena saya berbohong. Saya masih cinta..
Dia diam. Saya diam. Lama.. membuat saya sangat ingin kembali menunduk.
***
Kami berpisah di lorong panjang tempat lift berada. Mengantarnya sampai ke pintu dan entah kapan akan kembali bertemu. Tidak ada yang berbeda. Karena memang tidak ada pinta.
Di ujung lorong di depan lift ia berdiri membelakangiku, kemudian berbalik memandangku. Memberikan senyuman dan mengucapkan terimakasih. Untuk pertama dia mengambil tangan ini.
'Sampai bertemu kembali, terimakasih dan jaga diri jangan sampai sakit' ia menepuk kepala dua kali, sebelum lift membuka dan sebelum kujawab terimakasih.
Terimakasih, iya dan sampai jumpa. Tiga kata yang selalu kukunci untuk dijawab. Yang kupikir ini bagian dari risiko yg kutelan dari hilangnya perhatian. Dan perubahan drastis yang reaktif
Dalam hal ini, bisa jadi cinta saya bertepuk. Tapi cinta ini penah melakukan sesuatu. Dan tidak diam
Dia cukup mencari tempat, dimana cinta memang telah ditunggu dan diterima.
(ADA)
Banyak yang bilang bahwa cinta itu bukan sekedar meminta kepemilikan hati orang tersebut. Bukan perkara menyatukan ego melainkan sebuah proses tak berkesudahan ketika hasrat cinta yg membara di awal dan harus terus terjaga panasnya. Cinta juga bukan sekedar kewajiban melapor sambil menceritakan sedu sedan dan bahagia dalam satu hari itu. Bukan pula seperti cerita ftv atau kisah-kisah yg ditulis pablo neruda dan kahlil gibran. Tidak pernah selamanya manis, puitis dan penuh dengan gombalan manja.
Ah! Tahu apa aku menyoal cinta. Aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan rasanya sangat dalam. Sementara untuk mengambil contoh mungkin harus belajar banyak dari yang mengalami banyak cinta, meski hanya mampir di tepi.
Cinta itu muncul dari hal-hal sederhana. Dari kebiasaan yang membuat nyaman. Cinta itu selalu mengupayakan keberadaan, selalu hadir. Cinta juga mengupayakan kebahagiaan, mengesampingkan lelah yang dipunya. Dan berbagi. Berbagi untuk saling memberi dan memenuhi.
Kira-kira begitu.. pastinya aku tidak tahu.
Yang kutahu hari ini aku bertemu membuat janji dengannya. Tidak berdua. Tapi aku dengan orang tuaku dan dia dengan orang tuanya. Untuk bersama membantu. Sebelum fajar mengintip aku sudah di muka halaman rumahnya. Mengambil pak-pak kardus buku yang entah berapa banyak isi buku didalamnya. Semuanya dia bawa tanpa sisa. Dia pindahkan untuk rumah dia yang baru.
Aku masih ingat ketika peluh jatuh dari kening kepalanya. Mengucur deras dari kulitnya yang halus dan mulai ditumbuhi keriput halus. Aku penasaran sudah berapa banyak buku yang ia baca. Penasaran bagaimana ia selalu mencari relevansi teori dari pengalaman yang ia punya. Aku tahu dalam hal ini aku hanyalah adik kecilnya, yang bisa membantunya mendesain rumah mungilnya untuk disulap sebagian menjadi ruang perpustakaan. Iya, aku penasaran.
Siang itu, sambil merapikan buku yang mulai disusun, kubiarkan pembicaraan berkembang dari hal satu ke hal yang lain. Caranya menatap masih sama, caranya bercerita juga masih sama. Dan tanganku berhenti pada buku tersampul yang tertambat di mataku. "Ini buku pernikahan, belum di baca?" Ujarku penasaran. Ia menjawab bahwa itu akan menjadi hadiah. Untuk belajar membina rumah tangga
Ia bangkit berdiri, berjalan beberapa langkah yang membawanya pada satu buku bersampul. "Ini juga hadiah buat kamu. Biografi. Bagus isinya" aku diam tidak bereaksi apa. Aku tidak meminta buku. Aku hanya ingin ceritanya. "Mas tahun depan menikah dek. Doain aja ya lancar semuanya". Buku yang ditanganku mendadak jatuh, aku pukul mundur mengambilnya dan mengalihkan pandangan. Ini sudah kuduga, ini yang sudah dipersiapkan, ini jawaban dari doa. Atas nama kepatutan aku bangkit, mengambil buku dan menyeimbangkan senyum dengan sederet gigi. "Selamat ya" hanya itu, hanya itu yang bisa diucapkan.
Tidak. Ini tidak sesakit yang kubayangkan.
Aku terdiam sejenak di sudut rak kayu yang masih baru bau cat. Disudut ini nanti dihuni oleh mereka pasangan baru. Aku beruntung dapat berperan disini, menempelkan karyaku yang dapat diingat setidaknya sampai ia memutuskan untuk mendekor ulang. Akupun sudah cukup mengambil banyak dari sini. Belajar untuk menyalurkan ilmu keikhlasan, keseimbangan, kebahagiaan dan rasa rindu yang menggebu menjadi satu keutuhan. Aku belajar menerima, dan mencintai dengan baik. oke, dua kalimat terakhir tidak sepenuhnya benar!
Setidaknya aku masih punya daya.
Daya untuk berupaya tidak mengabulkan apa yang diminta hati. Daya untuk tahu diri. Bahwasanya yang fana adalah ketidakberdayaan untuk bangkit.
Danke banyak voor dorang. Tete manis sayang dorang senantiasa.. beta seng akan lupa dong pung sayang yang lebih dari cukup.
(ADA)
© Frasa.. Powered by Blogger and Manifest. Converted by LiteThemes.com