Showing posts with label Narasi. Show all posts

Tentang Teman Berbagi.

Dia dipilih.
Oleh hati
Yang mendorong kisah aku dan kamu menjadi kisah kita
Yang membuat mengapa perjalanan kamu menemukan cinta selalu berhenti di tengah jalan
Yang memutus langkah kamu berhenti
Karena kamu merasa telah menemukan.
Dan sekali lagi ia dipilih.
Kamu tahu, kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu akan jatuh cinta
Tapi kamu tahu, diantara kalian akan ada sebuah pita penyambung dua kehidupan kalian
Yang berselam dalam janji kehidupan bersama "nanti"
Secepat itu kamu merasa yakin ketika kalian telah menemukan.
Pria yang selama ini kamu tunggu bertahun lamanya, akan dikalahkan oleh ia yang hadir sekejap dan membangunkanmu dalam lamun pengharapan cinta yang panjang
Seketika hari itu kamu berbahagia
Bukan sekedar berbahagia saat pertama kalinya bergandeng tangan
Bukan sekedar berbahagia di kencan pertama yang mendebarkan
Ataupun berbahagia karna hadirnya yang mempesona
Kamu akan berbahagia dengan sederhana
Yang membuat harimu lengkap.
Untuk kamu, sahabatku
Yang belum melihat pita penyambung itu
Yang belum menemukan tempat tunggu dan berhenti, bersabarlah
Karna kelak penantian Baik itu akan hadir
Disaat terbaik dalam hidupmu yang tidak pernah kamu duga.

Salam sayang,
Aku yang telah menemukan tanda.


Kisah ini merupakan hasil pertemuan kisah Babak Lima Belas Menit

Hai

Shinjuku Station Peak Hour

Kereta Anda telah memasuki stasiun akhir. Sekali lagi, kereta Anda telah memasuki stasiun akhir. Terima kasih telah menggunakan jasa angkutan kereta api.

Suara masinis dari interkom di sudut gerbong.

Aku berjalan melewati kursi-kursi yang baru saja ditinggalkan penumpangnya. Keluar kereta dan mendapati stasiun begitu besar dan dipadati manusia. Musim liburan. Kuterobos kerumunan, tak sekali-dua kali tertubruk dan menubruk orang lain. Sampai tiba-tiba di tengah kerumunan yang hampir tak bergerak sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku hampir berteriak marah sebelum mendapati ternyata kamu yang ada di sana. Di antara kerumunan. Tersenyum.

"Hai" seru kita bersamaan.

Ah selalu saja kamu berhasil menemukanku.


LA.

Tentang Kita, Barangkali

Barangkali kita hanya terus berputar seperti dalam lintasan yang berjarak sama dengan bumi yang berputar. Barangkali kita ikut terus berkeliling tanpa tendensi, tanpa tau apa yang benar-benar sedang kita cari. Barangkali kita sedang menunggu kapan satu diantara kita yang mulai berhenti. Bertahan dalam lelah..

Kita, yang sedang bertanya apa makna dari keberadaan aku dan kamu, yang sibuk memahami keadaan dan membaca kamu dan aku dalam cermin yang jernih, yang sedang berandai akan dibawa kemana cerita ini. Kita yang sama-sama butuh dan menganggap telah saling menemukan

Seringkali dalam tiap kewajiban melapor yang terkesan biasa saja. Sarat makna. Yang tak bisa dibahasakan dan diucapkan dalam kata yang sederhana. Tentang kemampuan kita bercerita tentang panorama bulan yang anggun dalam lingkupan milky way, mimpi absurd dan kontemplasi cita-cita, tentang kesadaran untuk saling membunuh waktu dan berbagi hal manis dan rumit. Kita tenggelam dalam haru dalam nyaman rasa sendu sementara dua diantara kita hanya meringkuk malu. Takut bertanya, akan dibawa kemana..

Satu diantara kita telah menyadari, bahwa permainan ini tidak ada dimenangkan siapa-siapa. Bahwa tidak ada pilihan untuk kapan merasa harus jatuh cinta. Dan ketika itu terasa yang ia lakukan hanyalah terjun bebas selepas mungkin hingga sadar ada jarak yang berdiri tegak menyublim tiap rindu yang mencuat

Bukankah seharusnya jarak tidak menjadi masalah ketika telah ada 'kita' dalam baris kata? Bukankah janji itu tidak perlu bila dua diantara kita telah yakin dan mampu?

Barangkali waktu yang telah memiliki jawabannya, barangkali kita sedang menunggu untuk saatnya tiba.. dan barangkali kita dapat membunuh sepi dengan tidak menyakiti diri masing-masing.

*untuk kamu yang belum dapat kusebut sebagai nama*

(ADA)

Secangkir Kopi dan Pagi Yang Fitri

Tuhan selalu mencairkan yang baik dalam setiap kehidupan manusia. Tuhan selalu berkehendak pada bait-bait panjang doa yang dipanjatkan. Yang menunggu untuk dibaca dan dibalas dalam berbagai bentuk melalui pertanda

Semesta juga cair. Ia dapat mengisi rongga apapun yang memenuhinya, dengan perasaan yang seperti musim. Berpindah meski kadang fluktuatif. Ia selalu berpindah

Aku ada dalam satu kesempatan kali ini. Aku bilang telah melepaskan, pada hati yang diam-diam mencari dan begitu nakal. Meminta apa yang belum disiapkan, disetiap doa dan diwujudkan dalam ikhtiar yang aku sendiri tak dapat membaca pertandanya

Aku mengosongkan kotak hati itu. Yang dulu sempat diisi namamu, namun kurasa hatiku tidak pernah belajar dengan baik seperti yang lalu. Sayangku, hati ini kembali terisi dengan sepotong hati yang bukan namamu. Dan betapa lucu ketika hari ini aku bertemu denganmu aku ingin menyampaikan itu..

Sepotong hati yang baru yang hadir tanpa permisi, yang hangatnya mencairkan dan menenangkan seperti buih dalam secangkir kopi. Ia bukanlah aroma kopi yang sesapnya dapat selalu kuingat dan membawa hal yang baik. Buihnya mengajarkan bahwa dalam hal yang baik akan ada sebuah proses yang panjang.. yang harus kau nikmati di tiap prosesnya

Semoga hati ini tidak kembali noda. Dengan pahit yang tersisa dalam secangkir kopi yang mengendap menjadi ampas.

Dari aku yang mulai menikmatimu. Kamu yang baru..

Sampai Kita Dewasa dan Bijaksana untuk Menyadari

Bram Saladdin of The Experience Brothers
Pict Source: Flickr

Selamat malam,
Untukmu yang paling sering aku rindukan
Dan yang diam-diam kukirimi doa sebelum aku tertidur
Suatu hari kamu akan tahu
Bukan sekarang
Suatu hari
Ketika kamu sedikit lebih bijaksana
Ketika kamu mendekat pada Tuhan
Kamu akan tahu
Karena selama ini diam-diam aku mengadu pada Tuhan
Aku berdoa pada Tuhan
Untuk memberimu kebahagiaan
Untuk memberimu seseorang yang dapat mendampingimu menjadi manusia yang lebih baik
Untuk memberimu seseorang yang dapat memenangi monster dan ego dalam dirimu
Aku belum mampu untuk memberitahumu
Aku belum cukup dewasa dan bijaksana
Aku masih terlalu egois untuk dapat memenangi monster dan egomu
Aku masih belum cukup baik untuk mendampingimu
Sampai saat itu tiba,
Semoga kamu senantiasa berbahagia
Selamat malam dan selamat tidur


LA.

Skenario Semesta

bechaela

Dalam semestanya, dia membenci kakaknya yang selalu dan selalu terbebas dari hukuman orang tuanya
Dalam semestanya, dia muak pada sikap diam sang ayah. Atas semua hal
Dalam semestanya, dia dendam pada sang ibu karena menyebutnya tidak tahu terima kasih
Dalam semestanya, dia selalu mencari alasan untuk berada di luar rumah setiap harinya
Dalam semestanya, dia kesepian tapi terlalu malu untuk merengek pada teman-temannya, minta ditemani
Dalam semestanya, dia diam-diam berharap suatu saat akan menemukan seseorang yang mampu memenangkan ego dan monster di dalam dirinya
Tapi
Dalam semestanya, “Semua manusia diciptakan berpasangan” mulai terasa seperti omong kosong

Lalu dia berjalan meninggalkan kafe, berlalu begitu saja dari tatapan sepasang mata yang setiap menit tertuju padanya, yang tidak pernah dia sadari. Karena, dalam semestanya, semua hanya tentang dia.



LA.

Mencari Harapan

Matanya menatap tajam ke lawannya. Bola matanya bergerak-gerak menelanjangi, seolah mencari sedikit harapan dan kepastian untuk masa depannya. Tapi yang tampak dari lawannya hanyalah alasan-alasan manis semu yang terasa jemu. Sebuah usaha supaya dia tetap bertahan di sisinya. Tapi dia sudah muak, sudah terlalu lama ia terus disirami dengan janji manis yang pada akhirnya hanya menjadi omong kosong. Dia tidak mendapatkan yang dia cari dari lawannya, makanya ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan belasan poster kampanye partai politik yang terpaku di batang pohon rindang di pinggir jalan itu.




Catatan: Tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak akan memilih mereka yang posternya terpasang di pohon-pohon rindang. Take our trees out from your political shits, please! #sikap #belajartidakapatis


LA.

Sepi

Untitled
Pict: Nikoline

Rasa sepi paling absolut bukanlah ketika berada di sebuah konser sendirian. Bukan ketika menonton film di bioskop sendirian. Bukan ketika menikmati secangkir kopi di kafe favorit sendirian. Bukan juga saat makan siang sendirian
Rasa sepi paling absolut justru setelah hari yang begitu panjang dan melelahkan. Aku berbaring di tempat tidurku dan menyadari tidak ada seorangpun di sampingku. Juga tidak seorang temanpun di telepon genggamku yang berusaha menghubungiku

Seorang teman pernah berkata saat perbincangan tengah malam kami,
"Malam tidak selamanya sepi
Tidak juga selamanya gempita
Malam ini bisa saja sepi
Tapi besok pasti (setidaknya) akan sedikit lebih ria"




Aku mengamini itu.


LA.

Warna Memori

Aku cek jam dipergelangan tanganku. Pukul 06.15, sudah saatnya berbuka puasa. Aku terlambat di tempat berkumpul. Bukan perkumpulan spesial sebenarnya, hanya sebuah perkumpulan dengan teman-teman lama. Termasuk dengan gadis itu, gadis yang pernah kupinta hatinya. Salah, gadis yang pernah kuberikan hatiku padanya. Apakah Ia akan datang?

Sesampainya di sana mudah saja menemukan gerombolan itu dan menemukan dia, yang memilih duduk di meja kecil tengah, di luar gerombolan tertentu, dia yang seketika menunduk saat melihatku datang. Aku menelan senyum geli melihat tingkahnya. Bodoh, lain kali setidaknya berusahalah untuk tidak terlalu terlihat jika melakukan itu lagi ya.

Aku ingin duduk di sampingnya, di hadapannya, di dekatnya untuk menanyakan kabar hati yang pernah kuberikan. Saat itu ia menolak pemberianku dengan alasan pendidikan. Bodoh dan klise. Tapi, itu yang kukagumi darinya. Ia dan ambisinya pada pendidikan.
Aku ingin duduk di sampingnya, di hadapannya, di dekatnya, tapi aku sadar diri. Saat ini aku sedang memiliki hati seseorang.

Jadi, aku memilih bergabung dengan gerombolan lelaki, berjarak darinya.

Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya dari ujung mataku. Aku menyadari sesuatu. Dia dengan jilbab merah marunnya dan aku dengan kemeja merah marunku. Aku punya warna untuk memoriku tentangnya kali ini: merah marun.


Counter part kisah Merah Marun.


LA.

Menantikan Kita di Masa Depan

Aku dikelilingi oleh lima orang lelaki yang kusebut sebagai sahabat. Aku menyebut mereka sahabat. Entah mereka menyebutku apa. Lima lelaki tampan yang senantiasa sabar menghadapi egoku. Lima lelaki dengan karakter berbeda yang senantiasa siap menampung keluh kesahku, yang senantiasa memberikan perhatian tulus dan hangat saat aku membutuhkannya. Lima lelaki yang dulu dapat secara tiba-tiba kuajak untuk menghabiskan malam bersama di entah-warung-kopi-mana. Banyak cerita, lebih banyak lagi drama. Entah sejauh mana kami mengenal satu sama lain sekarang.

Sampai di masa ini, masa dimana semua memiliki kesibukan masing-masing. Pernah secara tiba-tiba aku ingin menelpon seseorang di suatu pagi hanya untuk mengucapkan selamat pagi, aku menelepon salah satu dari mereka. Hanya sekali atau dua kali. Selebihnya semua tenggelam dalam lautan pekerjaan, tanpa kabar berita. Dulu semua terasa mudah dan sederhana. Aku cukup berkicau di dunia maya bahwa aku bosan, lalu salah satu dari mereka akan menyahut dan kemudian kami mendapati diri sudah duduk berhadapan menghabiskan sisa hari di entah-warung-kopi-mana. Sekarang untuk sekedar berkumpul di akhir pekan atau selepas jam kerja bukanlah perkara gampang. Kami dipisahkan oleh dunia kasat mata yang aku sebut "scene". "Scene" kami terlampau berbeda sekarang, aku merasa begitu jauh dari mereka. Atas nama pekerjaan, kami menjadi terlampau jauh dari satu sama lain.

Suatu malam, aku sampai pada suatu pemikiran, apa yang akan terjadi di masa depan saat mereka satu persatu memiliki tambatan hati? Apa yang akan terjadi padaku, lebih tepatnya. Mereka tidak akan lagi leluasa menghabiskan malam di entah-warung-kopi-mana bersamaku. Aku tidak akan lagi leluasa mengajak mereka untuk menghabiskan malam di entah-warung-kopi-mana. Atau jika bersama, mungkin aku akan melihat mereka justru menghabiskan waktu berbicara dengan kekasihnya melalui sambungan telepon genggam. Dan aku akan cemburu, tentu saja, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Lelakiku sudah dialihkan sepenuhnya dariku dan aku tidak akan bisa berbuat banyak. Pada masa itu, aku akan jauh lebih merindukan mereka dibandingkan saat ini.

Lelaki-lelakiku sayang,
sebelum itu tiba, sebelum waktu dan perhatian kalian dikuasai oleh seseorang yang kalian sebut kekasih, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama kalian. Mari kembali menghabiskan waktu di entah-warung-kopi-mana sambil bercerita dan saling mencela satu sama lain atau justru sok membicarakan sesuatu yang serius yang berakhir tanpa kesimpulan.

Sungguh, aku menantikan masa depan, aku ingin melihat kita di masa depan. Akankah masih seperti saat ini atau justru menjadi orang asing sama sekali?

Senin, 25 November 2013. 17:43. Aku merindukan kalian dan aku ingin piknik!!


LA.

Secangkir Kopi, Sebatang Rokok, dan Sebait Kisah

Coffee Shop (II)

Hal paling menyakitkan dapat dilakukan oleh orang yang paling kau sayangi. Semua orang menyetujui pernyataan tersebut. Termasuk aku. Terutama aku.

Hari ini aku berdiri di depan sebuah coffee shop. Aku tahu kalian akan bertemu di sini sore ini. Aku berada di sini dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah kita. Untuk menuntaskan luka yang sudah kita buat pada satu sama lain.

Aku melangkah masuk. Kupesan secangkir espresso. Aku membutuhkan sesuatu yang pahit, yang bagaimanapun tidak akan lebih pahit dari yang akan kita hadapi setelah ini.

Aku melihatnya duduk membelakangi arah kedatanganku. Kusentuh pundaknya seraya mengambil duduk di hadapannya. Dia terlihat kaget karena aku tidak seharusnya berada di sini. Aku berusaha setenang mungkin dan membiarkan kesunyian menyelimuti kami. Satu menit. Lima menit. Delapan menit. Tigabelas menit. Barista datang membawakan espresso-ku.

Kubaui aroma yang merebak. Tidak ada yang lebih menyegarkan dari aroma kopi panas. Untuk kali ini, aromanya menyegarkan tetapi tidak menenangkan sama sekali.

Kutatap dia yang di hadapanku duduk dengan canggung, dengan bahu terlalu tegang. Kamu mengapa belum datang juga? Karena itu kamu. Ya, aku sudah terlampau mengenalmu. Kuteguk espresso sedikit. Pahitnya menusuk lidah.

"Apa kabar?" tanyaku. Entah kepadanya atau lebih kepada diriku sendiri.

Dia tidak menjawab, masih menunduk memandangi ibu jarinya yang saling beradu. Juga masih dengan bahu yang terlalu tegang. Dia yang biasanya tidak pernah berhenti bicara saat kami bersama.

"Sudah lama, ya, sejak terakhir kali kita duduk berhadapan menikmati secangkir espresso untukku dan segelas mocca frape untukmu, seperti sekarang ini. Aku sempat merindukanmu. Merindukan berbagi kisah denganmu"

Hening. Aku menolak menatapnya, aku memilih menatap refleksi diriku di atas pekatnya espresso.

"Tak adakah kisah yang ingin kau bagi?"

Hening.

"Mulai hujan. Artinya dia akan lebih terlambat lagi"

Hening.

Kutatap butiran air hujan yang mengalir perlahan di jendela.

Kuhembuskan napas diam-diam.

"Kenapa kalian memilih untuk menyiksa diri? Kenapa tidak katakan saja yang sebenarnya? Aku menunggu, sampai kapan kalian akan bertahan. Tapi ternyata aku yang tidak mampu bertahan.
Kalau kalian jujur, tidak ada yang harus terluka dalam. Tidak perlu berlama-lama menyiksa diri. Tidak perlu bersembunyi-sembunyi. Kalian cukup jujur, aku akan merelakan. Bukan karena aku tidak menyayanginya lagi, tetapi karena akupun tak kuasa mempertahankan seseorang yang tidak ingin dipertahankan. Di lain sisi, karena dia memilihmu. Aku akan rela. Karena yang ia pilih untuk menggantikanku adalah kamu.
Aku mengenalmu dengan baik. Kau gadis yang baik. Dia akan menjadi sosok yang lebih baik jika bersamamu. Dan aku juga akan lebih lega melepasnya untuk bersamamu. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan"

Kubakar sebatang rokok dan menghisapnya perlahan tanpa sedikitpun menatapnya. Aku masih menatap kosong butiran air hujan di jendela kafe.

Tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Kuharap dia mengetahui, ini bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan. Tapi, entahlah akupun ragu air mata apa ini.

Tanpa kata dia menyergap kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Genggaman erat yang sudah sangat kuhapal. Genggaman yang selalu kuartikan sebagai caranya untuk menenangkanku.

Kami bergeming. Air mataku tak terbendung, mengalir di kedua pipiku.

Sebuah suara yang juga sudah kuhapal memanggil namaku dengan nada terkejut. Kuhapus air mataku dan menoleh. Kamu di sana. Berdiri mematung, jarak satu meter dari meja kami.

Aku memandangmu sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menghampirimu.

"Mengapa tidak kau katakan saja sejak awal? Sehingga tidak ada yang perlu terluka terlalu lama. Karena aku akan merelakanmu. Kita dua manusia dewasa, kita pasti mampu menyelesaikannya dengan terbuka tanpa amarah"

Kau menatapku dengan penuh rasa bersalah. Aku benci ditatap seperti itu.

Kuusap butiran air hujan di rambutmu. Ada perasaan yang menyeruak kuat. Aku sangat menyukai mengusap rambutmu, memainkan jemariku di antara helai rambutmu.

Kukuatkan diriku untuk memelukmu, pelukan terakhir.

"Terima kasih untuk semuanya. Aku titip sahabatku, ya. Aku yakin kalian akan berbahagia bersama," bisikku di telingamu.

Aku tatap matamu sedalam mungkin, tatapan terakhir.

"Kau tahu aku akan selalu menyayangimu," ucapku seraya mengecup lembut pipimu, kecupan terakhir.

"Sampai jumpa," ucapku seraya melepaskan genggamanku.

Dan berjalan meninggalkan kafe. Meninggalkan espresso yang masih tersisa seperempat dan rokok yang masih menyala setengah. Meninggalkan kalian berdua.

Semoga kita berjumpa lagi dalam keadaan yang lebih baik.


LA.

Tentang Rasa


Pict: Pinterest

Malam ini kita bebaring di atas rumput, memandangi bintang-bintang. Seketika aku berpikir ini adalah saat yang tepat untuk berbicara denganmu. Berbicara tentang rasa.

Kukumpulkan segenap keberanian dan kuruntuhkan segala harga diri, membisikkan, “Aku rasa aku menyukaimu”

Seketika kau menoleh dan berkata, “Apa?”

Tanpa mengalihkan pandanganku dari bintang-bintang, kuucapkan sekali lagi dengan lebih lantang, “Aku rasa aku menyukaimu. Rasa suka yang tidak biasa. Ya, Kau pasti mengerti”

Kemudian keheningan menyelimuti kita. Lima menit tanpa kata. Lima menit tercanggung dalam hidup kita.

Kau bangun dan duduk. Aku mengikuti. Kau ubah posisi dudukmu, menghadapku. Sekarang kita bertatap muka. Aku yakin kau pasti mendengar desir aliran darahku.

Kau menatapku tepat di mata dan berkata, “Aku juga menyukaimu. Sebagai sahabat. Sahabat tersayang”.

Kurasakan desir darah dan degup jantungku tak karuan, tetapi tak lama kemudian melambat dan kembali pada ritmenya.

Aku sudah menduga itu yang akan kau ucapkan. Sepertinya aku sudah terlalu mengenalmu, atau mungkin kau yang terlalu mudah ditebak. Entahlah.

Lalu, aku tersenyum dan berkata, “Aku hanya ingin kau tahu. Karena rasa ini punya hak untuk diketahui”.

Aku menghela napas lega.

Dan tersenyum lebih lebar.


(Note: Kisah ini berlanjut ke Tentang Rasa (Sekuel))


LA.

Elegi


Aku duduk di sebuah bangku di pinggir jalan, di depan sebuah kafe. Seorang diri. Dua buah tiket konser ada di tanganku. Kita sepakat akan bertemu di kafe ini, lalu bersama-sama menuju lokasi konser. Aku gila atau terlalu bersemangat. Entahlah. Ini dua jam lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Kuputuskan masuk ke kafe untuk secangkir macchiato dan sepotong pai apel. Kita pernah sepakat pai apel di kafe ini adalah yang terenak di penjuru kota. Pai yang hangat berpadu dengan es krim vanilla yang lembut. Hangat dan dinginnya berpadu sempurna di lidah.

Satu jam lima belas menit lewat sudah. Cangkirku sudah kosong. Pai apel-ku pun sudah meluncur seluruhnya ke mulut. 45 menit menuju waktu pertemuan kita. Jantungku berdebar. Tapi, untuk apa? Seingatku, kau tidak pernah tepat waktu. Setiap pertemuan selalu sama.

Dari kejauhan aku melihatmu setengah berlari menghampiriku. Dengan napas tersengal kau berkata, “Maaf membuatmu menunggu. Macet”.

Selalu seperti itu. Selalu ucapan yang sama. Dan aku selalu memakluminya, dengan senyum dan tanpa kata.

Sudah saatnya bertemu denganmu. Dari dalam kafe aku berpindah ke bangku di pinggir jalan. Kukeluarkan sebuah buku guna membunuh waktu. Kutengok sekali lagi arlojiku. Lalu, kuedarkan pandanganku ke kanan dan kiri.

Dari kejauhan aku melihatmu setengah berlari menghampiriku. Dengan napas tersengal kau berkata, “Maaf membuatmu menunggu. Macet”.

“Selalu alasan yang sama”

Kau memberikan ekspresi menyesal, memohon maaf.

“Oh, sudahlah. Kita, kan, bukan baru mengenal tadi pagi”.

Kita berjalan bersisian menuju lokasi konser di ujung blok. Kita mengantri sambil berbincang tentang hari ini. Tentang betapa menyebalkannya editorku dan tentang bahagianya kau bertemu dengan teman sekolahmu di tempat yang tidak terduga.

Sekarang kita berada di area panggung. Aku memaksa untuk bergerak maju hingga sedekat mungkin dengan panggung. Kau memimpin jalan kita. Aku perpegangan pada sikumu agar tidak terpisah. Jantungku kembali berdebar. Tapi, kali ini aku tahu kenapa.

Kita membicarakan tentang tata panggung, tata cahaya dan tata suara bagai dua orang ahli musik. Pembicaraan kita serius sebelum akhirnya tawa di antara kita pecah, menyadari betapa sombongnya nada bicara kita. Akhirnya band yang kita nantikan, band favorit kita, mulai menghentak panggung. Kita menyanyi, menari, melompat, dan meneriakkan “woohoo” berulang kali. Terlalu bersemangat. Bagaimana tidak, malam ini, konser ini, band ini adalah hal yang selalu kita impikan bersama.

Konser berakhir. Kau menggenggam tanganku, meninggalkan area konser. Jantungku berdebar tidak karuan. Kali ini, aku merasa ini salah. Debar jantung ini tidak seharusnya ada. Kita berjalan menuju mobilmu. Kau memarkirnya dua blok dari kafe. Kau selalu berkata, parkiran di area konser tidak masuk akal, sehingga kau lebih memilih untuk memarkir mobilmu jauh dari lokasi. Kita berjalan sambil bernyanyi-nyanyi kecil lagu-lagu yang dibawakan. Masih terlalu bersemangat tentang konser tadi.

Sampai di mobil, kau membukakan pintu. Lalu, melajukan mobil menuju rumahku. Kita sampai di halaman rumahku, aku belum berniat meninggalkan mobil dan kau belum ingin membiarkanku meninggalkan mobil. Kita masih berbincang. Tentang konser. Kutengok jam di dasbor mobilmu. Sudah jauh melewati tengah malam. Sudah saatnya aku masuk. Kita berpelukan. Sebuah pelukan kasual, seperti biasa. Pelukan kasual yang diikuti “terima kasih”, “selamat malam”, “hati-hati di jalan”, dan “sampai jumpa besok”.

Mobilmu menjauh.

Jantungku masih berdebar.
Debar yang seharusnya tidak boleh kurasakan.

“Aaaaaaaaaaakkkkkk”. Sebuah teriakan membuyarkan lamunanku. Seorang wanita berteriak bahagia, sepertinya mendapatkan kejutan dari kekasihnya. Kutengok arlojiku. 30 menit lebih dari waktu janjian. Ini tidak biasa. Kurogoh tas, mengambil ponsel. Sebuah pesan singkat baru. Darimu. Satu jam yang lalu.

              Aku terjebak macet, ada kecelakaan. Masih terlalu jauh dari lokasi konser.
              Sepertinya aku tidak akan sampai sebelum konser berakhir.
              Jangan menungguku. Pergilah sendiri. Maafkan aku.
              Kita berjumpa besok ya.

Aku menghela nafas berat, bersandar pada punggung kursi. Kecewa. Kumasukkan buku dan ponsel ke dalam tas. Kuhampiri wanita yang mendapat kejutan dari kekasihnya tadi. Kuberikan tiket konser kita pada mereka. Secara cuma-cuma. Kuambil ponselku sekali lagi.

              Maaf aku lupa mengabarimu. Aku masih di kantor.
              Berkutat dengan artikel dan deadline.
              Aku tidak akan datang juga sepertinya.
              Sampai jumpa besok.

Kutinggalkan tempat ini. Dan menghapus segala khayalan tentang malam yang tidak pernah kita miliki. Selamat malam. Hati-hati di jalan, Hati.


P.S. Fiksi ini disadur dari sebuah cerita cinta di Le Love.


LA.

Popular Posts

Frasa. Powered by Blogger.